ketentraman hati

Tidak ada penderitaan dalam hidup ini, kecuali orang yang membuat dirinya sendiri menderita.Tidak ada

kesulitan sebesar dan seberat apa pun di dunia ini, kecuali hasil dari prilaku kita sendiri. Terserah kita, mau dibawa ke mana kehidupan ini. Mau dibawa sulit, niscaya segalanya akan menjadi rumit.  Toh, semua akan tampak hasilnya dan nyata  tidak bisa tidak, hanya kita sendiri yang  merasakan dan menaggung akibatnya. Tetapi, kiranya kehidupan yang terasa  menghimpit hendak dibuat menjadi lapang, segala yang tampak rumit  hendaknya dibuat menjadi sederhana, dan segala yang kelihatannya buram, pekat gulita, hendaknya dibuat menjadi terang benderang,  cobalah rasakan dampaknya.Ternyata dunia ini tidak lagi tampak  sempit . Memandang kehidupan ini terasa seperti berdiri di puncak  lalu menatap langit biru  luas membentang, bertaburkan bintang, dengan semburat cahaya rembulan yang lembut menebar, menjadikan segalanya tampak  indah,alloh maha besar

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri” (QS Yunus [11]:44).

Padahal Alloh  telah memberikan jaminan melalui firman-Nya,
Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (kesusahan)” (QS ath-Thalaq [65]:7).

mengendalikan Suasana Hati
Kuncinya ialah:  Salah satu cara yang paling efektif adalah, manakala berhubungan dengan sesama manusia, jangan sekali-kali kita sibuk mengingat-ingat  kata-katanya yang pernah terdengar menyakitkan. Jangan pula kita sibuk membayangkan raut mukanya yang sedang marah dan sinis terhadap kita, yang pernah dilakukannya di hari-hari yang telah lalu.

Begitu pula hati dan pikiran kita mulai tergelincir ke dalam perasaan seperti itu, cepat-cepatlah kendalikan.   alihkan   hati ini dengan cara mengenang segala kebaikan yang pernah dilakukannya terhadap diri kita, sekecil apa pun. Ingat-ingatlah ketika dia pernah tersenyum kepada kita. Kenanglah jabat tangannya yang begitu tulus atau pelukannya yang begitu penuh persahabatan.
Pendek kata, ingat-ingatlah hanya hal-hal yang baik-baiknya saja, yang dulu pernah ia lakukan, seraya memupus sama sekali dari memori pikiran kita segala keburukan yang mungkin pernah ia perbuat.

Allah Azza wa Jalla sungguh Maha Kuasa membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya. Kita akan kaget sendiri ketika mendapati hasilnya. Betapa cepatnya hal ini berubah justru sesudah kita berjuang untuk mengubah segala sesuatu yang buruk menjadi tampak baik.

Bertambah dewasa ternyata tidak cukup hanya dengan bertambahnya umur, ilmu, ataupun pangkat dan kedudukan. Kita bertambah dewasa justru ketika mampu mengenali hati dan mengendalikannya dengan baik. Inilah sesungguhnya kunci bagi  ketenangan jiwa.
Suatu ketika kita dilanda asmara, misalnya. Kalaulah tidak pernah mau bertanya kepada diri sendiri, maka akan habislah kita diterjang oleh gelinmang hawa nafsu. Demikian juga kalau kita sedang diliputi gejolak amarah. Sekiranya tidak pernah mau mengendalikan hati, akan celakalah kita dibuatnya karena akan menjadi orang yang berlaku aniaya terhadap orang lain.

Oleh sebab itu, kita harus benar-benar memiliki waktu dan kesungguhan untuk bisa memperhatikan segala  perilaku kita sendiri .  Jangan-jangan kita sudah termasuk orang yang gemar berlaku zalim terhadap orang lain tanpa kita sadari. Apabila ini terjadi, maka apalagi kekayaan yang bisa menjadi bekal  kepulangan kita ke akhirat nanti? Bukankah segala amal yang kita perbuat itu-adakah   tergolong amal salih atau amal salah-justru tergantung pada  hati dan diri kita
Kita    berperang melawan keangkaramurkaan, ber peluh bersimbah darah. Tetapi, hati menjadi riya, ingin dipuji  ,ingin ditakuti, disebut pahlawan tetapi tidak disadari bahwa amalan seperti ini di sisi Allah  hampa nilainya, tidak ada harganya  .
Menjadi mubaligh, berceramah menyampaikan ajaran Islam. Didengar oleh ratusan bahkan ribuan orang. Pergi jauh ke berbagai tempat, menghabiskan sekian banyak waktu dan menguras tenaga serta pikiran. Namun, sama sekali tidak akan ada harganya di sisi Allah kalau hati tidak ikhlas. Sekadar ingin dipuji dan dihormati, sehingga merasa diri paling pintar,paling jumhur, atau bahkan lebih fatal lagi, karena motivasi sekadar untuk mendapat imbalan.

Begitu pula ketika kita berangkat haji, memakan waktu berpuluh hari dan menempuh jarak beribu kilometer. Tubuh pun terpanggang matahari yang membakar dan berdesak-desakan dengan berjuta-juta manusia. Tetapi, kalau tidak disertai niat karena Allah, sekadar ingin dipuji karena mendapat  titel haji, maka na’udzubillah, semua ini sama sekali tidak berharga di sisi Allah.

Mengapa pekerjaan yang telah ditebus dengan pengorbanan sedemikian besar malah membuahkan kesia-siaan? Ternyata sebabnya  bersumber  pada  ketidakmampuan mengendalikan suasana hati. Sebab, sekali seseorang beramal disertai riya, ujub,takabur  (sekadar mencari popularitas)  sebaliknya, hari-harinya akan senantiasa digelayuti perasaan resah, gelisah, kecewa, dan sengsara?

Niat yang tulus Ikhlas
Oleh karena itu, sekiranya kita belum mampu melakukan amal yang besar,   lebih baik memelihara amal-amal yang mungkin tampak kecil dan sepele dengan cara terus-menerus menyempurnakan dan memelihara niat agar senantiasa tulus dan ikhlas  ? Inilah yang justru akan dapat membuahkan ketenangan batin, sehingga insya Allah akan membuahkan pula suasana kehidupan yang  tentram,  indah dan  menyenangkan

Mudah-mudahan dengan kesanggupan diri  kita menyempurnakan dan memelihara keikhlasan niat di hati tatkala mengerjakan amal-amal yang kecil tersebut, suatu saat Allah Azza wa Jalla berkenan mengkaruniakan kesanggupan untuk mampu ikhlas manakala datang masanya kita harus mengerjakan amal-amal yang lebih besar. sekiranya didasari hati yang ikhlas seraya diiringi niat dan cara yang benar, niscaya akan melahirkan sikap ihsan.  kita akan selalu merasakan kehadiran Allah  dalam setiap  langkah sehingga dalam setiap denyut nadi  dan hembusan napas  kita akan selalu teringat kepada-Nya.

Inilah suatu kondisi yang akan membuat hati selalu merasakan  ketentraman.
“Alaa bi dzikrillaahii tathma ‘inul qulub” (QS ar-Ra’d[13]: 28), demikian Allah telah memberikan jaminan. Ingat, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram!

Demi Allah tidak ada pilihan lain. Kita harus  selalu  mewaspadai hati ini. Jangan sampai diam-diam membinasakan diri justru tanpa kita sadari. Sudah pahala yang didapat sedikit, hati pun tak bisa terkendalikan, sehingga semakin rusaklah nilai amal-amal kita dari waktu ke waktu. Na’udzubillaah himindaliq!

Dengan demikian, selain kita terbiasa mandi untuk membersihkan jasad lahir, kita pun harus memiliki kesibukan untuk “memandikan” hati ini. Selain kita makan untuk mengenyangkan perut, kita pun harus “menyantap” sesuatu yang dapat membuat hati ini terisi. Selain kita berdandan untuk merapikan penampilan, kita pun harus sibuk “bersolek” merapikan hati kita. Dan selain kita rajin becermin untuk memperelok wajah, kita pun jangan lupa untuk rajin-rajin pula “becermin” untuk memperelok hati  nurani

Semua ini tiada lain agar kita memiliki kemampuan untuk  menyelidik niat maupun perilaku buruk yang, disadari ataupun tidak . hanya alloh yang mengetahui.

wa,llohu a’lam bilmurodih

modah2an bermanfaaat bagi diri

 jkt 24 januari 2008

by:shineshune

%d blogger menyukai ini: