Oleh: ewon | April 17, 2008

kiat mendidik anak

Mendidik anak kecil bukanlah perkara mudah. Anak-anak adalah usia bermain, energi mereka benar-benar melimpah, di sisi lain akal mereka belumlah mengetahui untuk membedakan baik dan buruk, apalagi memikirkan masa depan mereka, hasilnya, jadilah mereka makhluk-makhluk kecil yang sangat sulit untuk dikendalikan.

 peranan orang tua sangat lah penting untuk mendidik dan memiliki tanggung jawab besar untuk mengarahkan anak kepada kebaikan. karena anak adalah suatu amanah darinya yang patut kita jaga dan kita pelihara .dan apabila kitaa melihat atow mengetahui tanda-tanda yang mengkhawatirkan bagi perkembangan si anak maka  kita  hendaklah  segera mengarahkan anak tersebut. Jangan membiarkan  mereka dengan bibit kejahatan yg timbul dalam hatinya ,karena itu merupakan hal yang akan dipertanggung jawabkan di hadapanNya kelak.

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَاْلأَمِيْرُ الَّذِي عَلىَ النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلىَ أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْهُ، اَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

 

“Ketahuilah, setiap  orang tua adalah penanggung jawab dan akan ditanyai tentang tanggung jawabnya. Begitu pula  Seorang pemimpin yang memimpin manusia adalah penanggung jawab dan kelak akan ditanya tentang mereka. Seorang laki-laki adalah penanggung jawab atas keluarganya dan kelak dia akan ditanya tentang mereka. Seorang istri adalah penanggung jawab rumah tangga dan anak-anak suaminya, dan kelak akan ditanya. 

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya, hendaklah  kita melakukannya dengan lemah lembut. Kelemah lembutan diharapkan dapat menyentuh hati sang anak serta tidak meninggalkan bekas yang buruk pada kejiwaannya sebagaimana kekerasan (yang tidak semestinya) akan meninggalkan bekas. Hendaklah  sebagai orang tua  meluruskan keadaan sang anak dengan memberikan peringatan berupa anjuran disertai senyum yang menyejukkan hati sang anak. Jika tidak ada perubahan, maka hukumlah mereka dengan pandangan mata, menunjukkan ketidak senangan dengan ekspresi wajah. Jika ternyata hal ini belum dapat mengubah keadaannya maka barulah kata-kata yang mengandung hardikan dapat digunakan. Tentu ada anak yang semua perlakuan di atas belumlah cukup untuk memperbaikinya, maka pukulan yang sewajarnya diperlukan pada anak semacam ini.

Kelemah lembutan adalah sifat yang dicontohkan oleh sebaik-baik pendidik Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini disebutkan dalam Al-Quran:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka karena rahmat Allah-lah engkau bersikap lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kaku dan keras hati, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159)

 kewajiban terbesar dan perkara terpenting bagi seseorang untuk meneladani akhlak beliau yang mulia ini? Serta bergaul dengan manusia sebagaimana beliau bergaul, dengan sikap lembut, akhlak yang baik dan melunakkan hati mereka, dalam rangka menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memikat hati hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikuti agama-Nya? 

Bahkan tidak adanya sifat lemah lembut dalam diri  kita  adalah sebab enggannya kebaikan mendekat kepadanya. 

 

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ، يُحْرَمِ الْخَيْرَ

 “Barangsiapa yang terhalang dari kelembutan, dia akan terhalang dari kebaikan.” (HR. Muslim )

بِالرِّفْقِ، فَإِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ، وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

 “Hendaklah engkau bersikap lembut. Karena tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali pasti memperindahnya. Dan tidaklah kelembutan itu tercabut dari sesuatu, kecuali pasti memperjeleknya.” (HR. Muslim)

Maksudnya, hendaklah engkau bersikap lembut dengan berlemah lembut kepada siapa pun yang ada di sekitarmu, sederhana dalam segala sesuatu dan menghukum dengan bentuk yang paling ringan dan paling baik. 

Selain anak yang dapat diluruskan dengan sikap lemah lembut dan nasihat yang baik. Harus disadari pula bahwa ada anak yang karena tabiatnya tidak dapat diluruskan melainkan dengan sikap keras dan pukulan. Tentu yang dimaksud bukanlah pukulan yang diniatkan untuk menganiayanya, tetapi sebatas pukulan untuk mendidik dan membuat anak malu agar tidak mengulangi kelakuan buruknya karena sadar . 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang tua untuk memukul anaknya apabila mereka enggan menunaikan shalat ketika telah berusia 10 tahun.

  

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلاَةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

Perintahkanlah anak untuk shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun. Dan bila telah berusia sepuluh tahun, pukullah dia bila enggan menunaikannya.” (HR. Abu Dawud  )
Pukulan untuk mendidik anak yang memperlihatkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan berupa kebiasaan untuk berbuat jahat dan maksiat bahkan dicontohkan oleh beberapa salafusshalih.  
Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan pukulan di sini adalah pukulan yang mendidik. Yaitu pukulan yang membuat jera dan tidak membuatnya terluka (apalagi meninggal seperti yang pernah terjadi  , naudzu billahi min dzalik). Pukulan ini dilakukan pada anggota badan yang tidak rentan dan bukan di daerah yang dapat membahayakannya. Memukul pada bagian wajah bahkan ada larangan yang jelas dari Rasulullah. sebagaimana dalam hadits Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu:

 إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ

Apabila salah seorang di antara kalian memukul, hendaknya menghindari wajah

pukulan jenis ini ibarat obat yang rasanya pahit, namun dibalik pahitnya terdapat penyembuh bagi yang meminumnya. Pada keadaan tertentu, sebagai orang tua kita harus benar-benar  untuk menggunakan jalan terakhir ini untuk memperbaiki keadaan anak tertentu. Sayang pada praktiknya, kebanyakan  orang tua  tidak dapat menggunakan jalan terakhir ini 

 Maka  orang tua hanya dapat menghela nafas sambil berharap Allah memberi taufik pada sang anak agar mau mendengarkan nasihat yang lembut. Juga berdoa agar diakhirat nanti ia diberi udzur atas pembiaran yang dilakukannya meskipun sebenarnya masih ada usaha yang dapat dilakukannya tapi tidak dilakukannya (mis: memukul).
 Ya akhy fillah, kecintaan yang sejati adalah ketika kita menyelamatkan anak kita dari api neraka. Ketakutan kita melihat anak kita merasakan sakit di dunia (walau kita tahu itu untuk kebaikannya) seharusnya tidak lebih besar dari ketakutan kita bahwa anak kita akan dibakar di dalam panasnya api neraka! 

 mudah-mudahan bermanfaat bagi kita untuk menjadikan anak-anak kita (waladun sholihun )

di ambil dari buku (aqidah-ahlaq)

 


Kategori

%d blogger menyukai ini: