Oleh: ewon | November 2, 2007

Mengungkap Makna Tujuan Hidup

DI tengah gejolaknya keprihatinan hdup dan berbagai bencana yang terus menimpa bangsa Indonesia, kita perlu merenungkan kembali tujuan hidup manusia (Muslim). Makna tentang tujuan hidup sampai kapan pun masih tetap relevan untuk direnungkan. Bagaimanapun manusia (Muslim) mesti sadar bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara. Kita cuma diberikan kesempatan yang sangat sebentar, bagaikan seorang musafir yang berhenti di sebuah oase, setelah istirahat sebentar dengan mempersiapkan perbekalan lalu melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir.

Nah, darimana kita berasal dan kemana kita akan kembali, ini adalah persoalan yang paling  mendesak dan perlu dicari jawabnya. Alquran dengan gamblang menegaskan bahwa, “… Sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya” (Q.S.2:156). Dalam situasi yang penuh dengan bencana dan tragedi, manusia sering kali baru tersadar untuk merenungkan makna dan tujuan hidup, lalu melakukan introspeksi, mencari dan mendekat kepada NYA. Intinya mengharap semoga Allah menyelamatkan kehidupan di dunia dari segala azab dan bencana, selamat dan bahagia di akhirat.

Alquran sendiri mengajarkan doa, memohon kepada Allah agar tidak hanya selamat dan bahagia di dunia saja, tetapi kedua-duanya, dunia dan akhirat. Dalam Surat 2:201 Allah berfirman, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan selamatkanlah kami dari siksa neraka”.

Tetapi manusia seringkali melupakan-NYA setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana firman-Nya dalam Alquran, “…tetapi setelah setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya… ” (Q.S 10:12 ). Karena itu, Allah dengan keras menyatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (Q.S 10:7 dan 8).

“… Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka pada hari ini, dan sebagaimana mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”. (Q.S 7:51). Pada ayat yang lain Allah menyatakan, “Barang siapa yang hidupnya sekarang ini (di dunia) ini buta (mata hatinya tidak mengetahui keberadaan diri tuhannya yang sangat dekat dan Wajib Wujud-Nya) maka kelak di akhirat juga akan lebih buta dan lebih sesat jalannya”. (Q.S 17: 72).

Dalam ayat yang lain Allah menegaskan, “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak untuk memahami ayat-NYA, mereka mempunyai mata tapi tidak untuk melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang bahkan lebih sesat dari binatang. Itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S 7:179).

Oleh karena itu jelaslah bahwa yang paling penting dan mutlak di dunia ini menurut Alquran adalah mengenal Allah. Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah mengungkapkan dengan gamblang bahwa, “Awwaluddiin ma’rifatuhuu… yang artinya: “Awal agama adalah mengenal-Nya (Allah)”. Dalam kesempatan yang lain Imam Ali a.s. menyatakan, “Siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya”.

Bagaimana tidak lebih penting mengenal (makrifat) kepada Allah, tujuan salat sendiri adalah untuk mengingat diri-Nya Tuhan yang nama-Nya Allah. Alquran menjelaskan, “… Dan dirikanlah salat untuk berzikir/mengingat-ingat-diri-Ku” (Q.S 20:14). Alquran sendiri mengungkapkan bagaimana ciri-ciri orang yang salatnya khusyuk antara lain dijelaskan, “Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka bertemu Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (Q.S 2: 46). Al-Imam Ali a.s. menjelaskan, “Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak aku lihat — tentunya dilihat dengan bashirah, mata batin “.

Karena Allah adalah Maha Gaib, maka “melihat” Tuhan dengan cara Tuhan, yaitu melalui utusan/Rasul atau wakil-Nya, yang merupakan pula ahlu dzikr sepertii yang dijelaskan berikut yang akan membuka mata hati, roh dan sirr (hakikat insaniyah kita) yang juga bersifat gaib, yang akan mempertemukan fitrah manusia dengan fitrah Allah (Q.S 30:30). Seperti yang diungkapkan dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 3, bahwa salah satu ciri atau pilar utama orang yang bertakwa adalah mengimani Al-Ghaib yaitu Tuhan Allah Yang Esa Yang Ghaib. Kata yu’minuuna bi al-Ghaib” pada ayat di atas kata Al-Ghaib di sini secara etimologis merupakan isim mufrod dan ma’rifat, tunggal dan   menunjukkan satu dan sudah tentu yaitu   Allah Yang Maha Ghaib, dan tidak bermakna jamak, al-ghuyub seperti kebanyakan para mufassir mengartikan kata al-ghaib ini.

Al-Ghaib juga bermakna bahwa Allah tidak mungkin mengejawantah/menampakkan diri di muka bumi, akan tetapi Allah juga menjelaskan dan sekaligus memberi kabar dan jalan keluar bahwa “… Dia tidak menampakkan kegaiban-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang diridai-Nya… ” (Q.S. Jin ayat 26-27). Pada ayat yang lain dijelaskan, “…maka bertanyalah/mintalah kepada Ahli Zikr-orang yang kompeten/ahli yang selalu berzikir, selalu ingat pada Tuhan, orang yang mempunyai pengetahuan tentang Tuhan jika kamu tidak mengetahui” (Q.S. 16:43 dan Q.S. 21:7).

Manusia tidak tahu kapan dipanggil Allah, atau mati, karena itu maka bersiaplah menghadapi kematian dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, “Belajarlah mati sebelum mati” (Muutuu qabla an tamuutuu), yaitu belajar dan berusaha agar kita selalu siap, agar sewaktu-waktu mati datang, mati dengan selamat dan bahagia. Allah menjelaskan mati yang selamat adalah ” Wajah-wajah mereka (orang-orang beriman) pada hari itu — waktu datang mati/kiamat sugra — berseri-seri. Mereka melihat kepada Tuhannya” (Q.S.75:22-23). Dengan demikiam mati yang selamat adalah matinya seorang yang bertakwa yang hatinya selalu berzikir dan ingat kepada Allah dalam keadaan apa pun, bagaimana pun dan kapan pun.

Karena itu mari segarkan kembali maksud dan tujuan hidup di dunia ini. Yaitu sebagaimana yang diungkapkan dengan kata kunci, perlunya memiliki kedalaman/intinya ilmu, selalu zikir, selalu tafakur, me-Mahasuci-kan Allah dan mohon agar terbebas dari api neraka. Firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 190-191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (kedalaman ilmu), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau sambil duduk atau dalam keadaaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. Wallahu A’lam.***

cara ciri al’ilmu 

  modah-modahan bermanpaat

 

Oleh: ewon | Oktober 5, 2007

Naskah_Kuno – Layang Buana Wisesa

Nama Pemegang naskah : Adang
Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
Asal naskah : warisan
Ukuran naskah : 16 x 21 cm
Ruang tulisan : 15 x 17 cm
Keadaan naskah : baik
Tebal naskah : 79 Halaman
Jumlah baris per halaman : 15 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 14 dan 17 baris
Huruf : Arab/Pegon
Ukuran huruf : sedang
Warna tinta : hitam
Bekas pena : tumpul
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas bergaris
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : putih kecoklat-coklatan
Keadaan kertas : tipis halus
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : puisi

Ringkasan isi :
Konon ada dua orang kakak beradik bernama Buana dan Wisesa. Selam hidupnya antara keduanya selalu saling bertanya jawab masalah hidup dan mereka selalu berfikir mengenai nilai-nilai kehidupan. Buana bertempat tinggal di sebuah Kampung besar yang bernama Jembarngalah, sedangkan Wisesa bertempat tinggal di sebuah kampung kecil bernama Jamanngalah.

Pertanyaan pertama diajukan oleh Wisesa yang kemudian dijawab oleh Buana. Adapun pertanyaan itu berbunyi.? Ketika hidup di dunia bagaimana asal muasalnya dan bagaimana kita lahir dari orang tua itu??

Kata Buana, kita berada di tujuh alam, dan melalui tujuh alam itu kita lahir ke dunia. Ketujuh alam itu adalah alam akhadiat, alam wahdat, alam wahidiat, alam arwah, alam ajam, alam missal, dan alam insane kamil?.

Selanjutnya Buana mengajukan pertanyaan kepada Wisesa yang isinya, ?Apa yang akan ditempuh oleh orang yang akan meninggal dunia?? Wisesa menerangkan bahwa jalan yang akan ditempuh oleh orang yang akan matimelalui tujuh alam yang berlambangkan dalam tubuh kita sendiri yaitu lidah, telinga, hidung, mata, kulit, otak dan kemaluan. Kepada tujuh anggota badan itulah kita mengabdi selama hidup.

Karena kesenangan di akherat nanti sangat tergantung pada penggunaan ketujuh anggota badan itu, yaitu apakah diabdikan kepada kehidupan duniawi saja ataupun bagi kepentingan hidup di akherat nanti, maka Wisesa memberi nasehat agar kita jangan terlalu mementingkan kehidupan di dunia saja.

Pertanyaan selanjutnya yang diajukan oleh Wisesa setelah menajwab pertanyaan Buana,? Apa yang dapat dibawa dari kehidupan di dunia untuk kepentingan hidup di akherat nanti? Buana menerangkan bahwa ada lima hal pekerjaan di dunia, yaitu yang dilakukan oleh mata, hidung, telinga, mulut dan otak. Kelima pekerjaan itu seperti dilambangkan oleh Rukun Islam. Keterangan mengenai Rukun Islam oleh Buana dijelaskan dengan panjang lebar.

Nasehat-nasehat dari dua orang kakak beradik itu sangat penting buat kita yang pokoknya dalam hidup itu kita harus saling asah, saling asuh dan saling asih.

Oleh: ewon | Oktober 5, 2007

Naskah_Kuno – Rawi Nabi

Nama Pemegang naskah : Adang
Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
Asal naskah : warisan
Ukuran naskah : 16 x 21 cm
Ruang tulisan : 12 x 17 cm
Keadaan naskah : baik
Tebal naskah : 336 Halaman
Jumlah baris per halaman : 15 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 14 dan 9 baris
Huruf : Arab/Pegon
Ukuran huruf : sedang
Warna tinta : hitam
Bekas pena : agak tajam
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas daluang
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : kecoklat-coklatan
Keadaan kertas : halus, agak tebal
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : puisi
Ringkasan isi :
Dikisahkan kabilah kaum Qurais yang hendak berdagang ke negeri Esam dipimpin olesh seorang kepala rombonganbernama Abu Jahal. Rombongan kabilah semuanya menunggang unta. Namun tiba-tiba unta yang ditunggangi Abu Jahal di paling depan tidak mau maju. Abu Jahal berusaha memaksa unta supaya melangkah, unta itu tetap diam bahkan menjatuhkan Abu Jahal dari punggungnya. Abu Jahal terjatuh dari punggung unta hingga pingsan. Selanjutnya Abu Jahal disarankan teman-temannya agar ganti naik unta. Abu Jahal menaiki unta lain, tetapi memasrahkan jabatan kepala rombongan kepada Alobah.

Ketika rombongan melanjutkan perjalanan tiba-tiba Alobah, kepala rombongan yang paling depan, diserang seekor harimau. Unta yang ditungganginya menjadi sasaran terkaman harimau itu. Abu Bakar yang ikut serta dalam rombongan itu berkata dalam hati. ? Ki Alobah, sebenarnya harimau itu hendak menerkammu, tetapi unta itu telah bela pati menjadi perisai.?

Keesokan harinya yang menjadi kepala rombongan Ki Kosim. Konon malaikan Jibril turun dari langit kea lam dunia membawa unta dari surga. Unta itu ditungganginya mendahului Ki KOsim. Unta yang ditunggangi malaikat adalah unta betina, sedangkan yang ditunggangi Ki Kosim adalah utna jantan. Ketika unta jantan yang ditunggangi Ki Kosim melihat unta betina itu, maka unta Ki Kosim berlari mengejar unta yang ditunggangi malaikat meninggalkan rombongan. Seketika anggota rombongan merasa heran jalan menjadi rata. Jibril dan untanya tiba-tiba menghilang tanpa ada yang tahu seorang pun. Ki Kosing bingung, jalan mendadak buntu. Semua menjadi tambah kaget, jalan menjadi hutan belantara. Tiba-tiba Abu Jahal berkata, ?Hal ini pasti karena Muhammad ikut rombongan kita.? Kemudian dari belakang Abu Bakar menyela,?Hai Abu Jahal , jangan sekali-sekali kau bicara asal bunyi. Muhammad itu bukan orang sembarangan, jika kamu tahu. Coba bila kamu beri ia kesempatan menjadi kepala rombongan mungkin kita tidak akan mengalami kejadian seperti ini?. Kemudian Abu Jahal pun menuruti saran Abu Bakar dan Muhammad disetujui menjadi kepada rombongan menggantikan Ki Kosim. Maka ketika Muhammad menjadi kepala rombongan hutan belantara berubah menjadi jalan yang bagus, air, makanan dan buah-buahan banyak. Semua rombongan bergembira.

Dalam perjalanan pertama, Nabi dengan rombongannya dicegat oleh ular besar, tapi semua ular itu tunduk pada Nabi. Perjalanan kedua dicegat oleh seekor singat, tapi singa itu pun hormat dan sepertinya mengakui kerosulan Muhammad. Perjalanan ke negeri Esam dilanjutkan kembali hingga tiba pada sebuah rumah seorang Kyai yang sudah tua. Kyai itu bernama Syahroh, kerjanya mempelajari kitab-kitab Jabur, Tauret dan Injil. Ternyata Kyai Sahroh telah mengetahui kerosulan Muhammad.
Dikisahkan perjalanan ke negeri Esam tinggal kurang lebih setengah hari lagi. Diceritakan di negeri Esam ketika kangjeng Nabi hamper tiba sekitar 3 pal lagi di kota Esam, orang-orang penduduk Esam merasa heran ketika terlihat cahaya menyebar ke kota Esam. Singkat cerita kangjeng Nabi sampai ke kota Esam, tampak cahaya kangjeng Nabi gemerlapan, kelap-kelip. Orang-orang pada bengong campur kaget. Di negeri Esam terang benderang. Burung-burung melayang-layang bolak-balik di atas negeri Esam seolah mengelilingi kota itu dan menandakan nabi telah datang. Pepohonan tiba-tiba keluar tunas, daun dan kembang. Orang-orang semakin kaget, apa sebab terjadi demikian.
Diceritakan raja Esam pun telah melihat semua kejadian itu. Kemudian raja memanggil seorang ahli nujum dan menanyakan kejadian itu. Ahli nujum tadi menjelaskan bahwa hal itu sebagai tanda bakal datang ke negeri Esam seorang ratu se alam dunia.

Kemudian raja berdandan pakaian kebesaran hendak menyambut kedatangannya. Maka kangjeng Nabi beserta rombongan disambut dengan hormat oleh raja Esam dan di tempatkan di sebuah gedung mewah. Orang-orang negeri Esam hormat dan santun kepda kangjeng Nabi. Selama melakukan perdagangan di negeri Esam barang dagangan milik kangjeng Nabi laris sekali. Banyak penduduk tertarik untuk membelinya. Pada suatu hari ada 4 orang kafir yang telah mengetahui kerasulan Muhammad. Mereka membencinya dan hendak membunuh kangjeng Nabi. Dicarilah akal, mereka bermusyawarah. Dengan pura-pura hendak membeli barang dagangan kangjeng Nabi karena tertarik, disuruhlah kangjeng Nabi datang ke rumah orang-orang kafir sambil membawa dagangannya. Singkat cerita kangjeng Nabi sampai di rumah orang kafir itu dan disuruh duduk di kursi dekat pintu. Keempat orang kafir itu sangat santun dan hormat kepada kangjeng Nabi. Disuguhkanlah kangjeng Nabi makanan-makanan ringan. Sementara kangjeng Nabi mencicipi makanan itu, seorang dari empat orang kafir itu naik persis di atas pintu dimana kangjeng Nabi duduk. Rupanya mereka telah bersiasat jauh-jauh sebelumnya. Kangjeng Nabi disuruh duduk di dekat pintu, di atasnya telah disimpan sebongkah batu yang akan dijatuhkan sehingga menimpa kangjeng Nabi yang ada di bawahnya. Itulah rekayasa keempat orang kafir itu. Tetapi rencana mereka tidak berhasil karena batu yang akan ditimpakan kepada kangjeng Nabi tidak mampu digeserkan oleh orang kafir itu. Bahkan batu itu menjepitnya hingga tidak bisa keluar. Sampai ketiga orang temannya mengetahui kejadian itu. Pada akhirnya orang yang terjepit itu hanya bisa ditolong oleh kangjeng Nabi sendiri, setelah ia mengakui niat jahatnya.

   garoet.go.id

Oleh: ewon | Oktober 5, 2007

Naskah_Kuno – Layang Muslimin Muslimat

Nama Pemegang naskah : Adang
Tempat naskah : Kp. Cieunteung
Desa Mekarluyu Kec sukawening
Asal naskah : salinan
Ukuran naskah : 16 x 21 cm
Ruang tulisan : 13 x 17 cm
Keadaan naskah : utuh
Tebal naskah : 73 Halaman
Jumlah baris per halaman : 27-30 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 26 dan 22 baris
Huruf : Latin
Ukuran huruf : kecil
Warna tinta : biru
Bekas pena : tumpul
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas bergaris
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : putih
Keadaan kertas : tebal agak keras
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : prosa
Ringkasan isi :
Tersebutlah dua orang kakak beradik bernama Muslimin dan Muslimat. Muslimin, kakaknya seorang laki-laki, sedangkan adiknya Muslimat adalah perempuan. Muslimin berbeda dengan muslimat dalam hal mpenguasaan ilmu bagbagan keagamaan. Maka tidak heran ia sering didatangi adinya yang bermaksud menanyakan masalah-masalah agama. Sementara Muslimin pun tidak menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan adiknya.

Pada suatu pagi ditengah ruang sepulang mereka sholat subuh dari surau nampak duduk berdua saling berhadapan , sementara di depan masing-masing terdapat makanan dan minum. Ketika itu tiba-tiba Muslimat berkata kepada kakaknya bahwa ia masih pesaran tentang hal sholat. Adapun yang ditanyakannya berbunyi ?Sholat lima waktu itu dilakukan oleh semua umat Islam sebagai ibadah terhadap Allah SWT. Apakah sholat termasuk wajib atau fardu? Dan apa bedanya wajib dengan fardu? Raden Muslimin menjawab ?Sholat adalah fardu sesuai apa yang diucapkan kita sewaktu niat bersholat, usoli fardu isya misalnya, tidak usoli wajib isya?. Wajib dan fardu beda sesuai dengan bahasanya namun meskipun berdua berbeda tetap harus disatukan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Wajib merujuk kepada masalah ilmu yang datang dari Allah SWT. Sedangkan fardu merupakan perintah dari Rosulullah SAW dalam hal ibadah. Masalah wajib yang datang dari Allah nyata sekali sesuai dengan hadis nabi bahwa semua umat manusia yang beragama wajib percaya adanya zat yang Maha Kuasa yakni Allah SWT. Wajib ma?rifat kepada kepada Allah SWT agar bisa kembali innalillahi wainnailahi roojiun. Jalannya tiada lainharus mengetahui zat-Nya yang utusan-Nya, hakekat Muhammad Rosulullah SAW. Jika sudah yakin kepada Muhammad, pada Allah SWT pun pasti yakin, sebab Allah tidak terlepas bagaikan gula dengan manisnya, air dengan dinginnya, ombak dengan lautan. Adapun masalah fardu, berkaitan dengan ibadah kepda Allah SWT sebagai kholik. Sebagai wujud jasmani harus turut perintah Rosul untuk melakukan fardu, seperti Rukun Islam yang lima itu : syahadat, sholat, zakat, puasa dan naik haji ke baitulloh. Fardu dan wajib kedua-duanya harus dikerjakan agar kita sempurna selamat lahir dan batin.

Kemudian Raden Muslimat menanyakan lagi tentang penting mana wajib dengan fardu. Dijawab oleh Raden Muslimin bahwa yang lebih penting adalah wajib sebab itu adalah perintah Allah kepda semua manusia, wajib ma?rifat kepada Allah, Adapun fardu dengan sendirinya akan mengikuti namun wajib adalah hal yang mutlak. Selanjutnya Muslimat bertanya tentang sifat Qoniyun dalam hadis yang berarti bahwa Allah itu kaya tidak perlu kebutuhan-kebutuhan lagi. Kakaknya menjelaskan bahwa Allah masih memiliki Kebutuhan-kebutuhan Maha Suci, kebutuhan maha agung, bukan lagi orang yang beribadah, orang rajin mengaji, orang yang rajin memuji-Nya karena semua itu milik-Nya. Pada saat kakaknya menjelaskan demikian Raden Muslimat menyelanya dan mengatakan kepada Raden Muslimin sebagai sebagai orang murtad, karena keterangannya itu ia anggap bertolak belakang dengan keterangan dalil yang pernah ia temukan. Tetapi Raden Muslimin cepat-cepat pula memberi penjelasan. Dijelaskan oleh Muslimin:?Kebutuhan Allah itu adalah wujud. Buktinya segala makhluk ciptaan-Nya di dunia tetap masih ada. Manusia masih tetap berketurunan, karena masih berkembang biak, tumbuh-tumbuhan masih tetap bertunas, walaupun sudah banyak manusia yang mati, hewan-hewan disembelih tapi tidak kurang yang datang (lahir). Itu semua menandakan kebutuhan Allah.?

Mengenai rusaknya makhluk higga menimbulkan mati sesuai dalil Al-Qur?an ?Kullu nafsin Daaikotul Maut? yang artinya semua badan atau tubuh akan akan mengalami mati. Dijelaskan bahwa itu kehendak Allah jika manusia tidak mati maka bumi akan penuh dan tidak ada tempat. Penjelasan itu oleh Muslimat di anggap tidak rasional sehingga ia bertanya,? Jika alas annya demikian mengapa Allah tidak berkehendak memperluas alam di dunia ini? Muslimin dengan serta merta menjawab, ?Dinda, perkara itu jangan dipikirkan, itu kehendak alam dunia ini. Hal itu sebagai tanda Allah berbeda dengan hawadis?. Jika hawadis (mahluk) tidak rusak (langgeng), tidak mati, berarti sama dengan Allah sebagai Kholiq, pencipta hawadis. Kesimpulannya semua makhluk berbeda dengan Allah tidak akan bisa sama.

Mengenai kematian manusia tidak sama sesuai dengan usianya yang beda-beda. Ada yang amti ketika masih bayi, kakek-kakek, masih bujang ataupun setengah baya. Oleh karena hal tersebut menunjukkan Allah pemurah dan pengasih, sifat murah Allah sudah nyata dan dapat dirasakan oleh semua makhluk, termasuk manusia dengan disediakannya lima jenis untuk kehidupan di dunia ini. Kelima jenis dimaksud adalah : Api, udara, tanah, banyu dan matahari. Satu dari kelima jenis tidak ada, maka manusia dan seluruh makhluk di dunia ini tidak akan mampu hidup. Sedangkan asihnya Allah itu memberikan kehidupan kepada semua makhluk_nya tidak ada bedanya hingga ke Alam Akherat. Hidup langgeng tidak kena rusak atau mati, adapun yang kena rusak dan mati adalah raga atau jasmani.

Oleh: ewon | Oktober 4, 2007

Thariqah(perjalanan)

Tarikat atau tarekat berasal dari lafal Arab thariqah artinya jalan. Kemudian mereka maksudkan sebagai jalan menuju Tuhan; Ilmu batin, Tasawuf.

Perkataan Tarikat (”jalan” bertasawuf yang bersifat praktis) lebih dikenal ketimbang tasawuf, khususnya dalam kalangan para pengikut awam yang merupakan bagian terbesar.

Tarikat tidak membicarakan filsafat tasawuf, tetapi merupakan amalan (tasawuf) atau prakarsanya. Pengalaman tarikat merupakan suatu kepatuhan secara ketat kepada peraturan-peraturan syariat Islam dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, baik yang bersi­fat ritual maupun sosial, yaitu dengan menjalankan praktek-prak­tek dan mengerjakan amalan yang bersifat sunat, baik sebelum maupun sesudah sholat wajib, dan mempratekkan riyadah. Para kyai menganggap dirinya sebagai ahli tarikat. (Leksikon Islam, Pustaka Azet Perkasa Jakarta 1988, II, hal 707).

Selanjutnya, tentang tarikat ini kami kutip dari buku tersebut (leksikon Islam), karena sudah dirangkum dengan kondisi Indonesia sehingga mudah dicerna. Setelah itu baru kami ambilkan komentar tentang tarikat dari berbagai sumber lain. Sehingga pembeberan tarikat yang kami kutip berikut ini merupakan bahan yang akan dikomentari sesudahnya.

Dalam tradisi pesantren terdapat dua bentuk tarikat: (1) yang dipratekkan menurut cara-cara yang dilakukan oleh organisasi-organisasi tarikat, (2) yang dipratekkan menurut cara di luar ketentuan organisasi-organisasi tarikat.

Tidak semua organisasi tarikat menganut sistem kepercayaan dan praktek keagamaan yang sama. Terdapat dua kelompok (a) yang sepenuhnya sejalan dengan ajaran-ajaran Al-Qur`an dan hadis; (b) yang tidak memiliki kaitan yang cukup kuat dengan Al-Qur`an dan hadis.

Berikut ini ada beberapa tarikat-tarikat yang menerangkan nama pendirinya, wafat pendirinya, tempat tarikatnya, pengaruhnya, asal-usulnya dan keterangan-keterangan yang perlu.

Tarikat Haddadiah
Tarikat yang didirikan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang wafat 1095M di Yaman. Banyak orang yang takut ikut tarikat­nya berhubung ratibnya yang terkenal, Ratib Al-Haddad, dipercayai sebagai doa selamat yang bermantera. Pengaruhnya tak hanya di Aceh, tapi hampir di seluruh negara Indonesia.

Tarikat Khalwatiah
Tarikat yang diprogandakan dalam abad-18 oleh Syaikh Mustafa Al-Bakri di Mesir dan Suriah. Salah seorang tokoh tarikat ini ialah Ahmad At-Tijani yang berasal dari Aljazair.

Tarikat Maulawiah
Tarikat yang didirikan oleh Maulwi Jalaluddin Ar-Rumi, meninggal dunia di Anatoila, Turki. Zikirnya disertai tarian mistik dengan cara keadaan tak sadar, agar dapat bersatu dengan Tuhan. Penga­nut-penganutnya bersifat pengasih dan tidak mengharapkan kepen­tingan diri sendiri, serta hidup sederahana menjadi teladan bagi orang lain.

Tarikat Mu`tabarah Nahdliyin
Para kyai pada tanggal 10 Oktober 1957 mendirikan suatu badan federasi bernama Pucuk Pimpinan Jam`iyah Ahli Tariqah Mu`tabarah, sebagai tindak lanjut keputusan Muktamar N.U. (nahdlatul Ulama) 1957 di Magelang. Belakangan dalam Muktamar N.U. 1979 di Semarang ditambahkan kata Nahdliyin, untuk menegaskan bahwa badan ini tetap berafiliasi kepada NU. Sejak berdirinya pimpinan tert­inggi badan ini ialah para kyai ternama dari pesantren-pesantren besar.

Dalam anggaran dasarnya dinyatakan bahwa badan ini bertujuan:

(1) meningkatkan pengamalan syariat Islam di kalangan masyarakat;
(2) mempertebal kesetiaan masyarakat kepada ajaran-ajaran dari salah satu Mazhab yang empat; dan
(3) menganjurkan para anggota agar meningkatkan amalan-amalan Ibadah dan Muamalah, sesuai dengan yang dicontohkan para ulama salihin.

Pasal 4 menyatakan bahwa badan ini akan tetap setia kepada paham Ahlussunnah wal-Jama`ah.
Alasan utama mendirikan badan federasi ini adalah:

(1) untuk membimbing organisasi-organisasi tarikat yang dinilai belum mengajarkan amalan-amalan yang sesuai dengan Al-Qur`an dan hadis;
(2) untuk mengawasi organisasi-organisasi tarikat agar tidak menyalahgunakan pengaruhnya untuk kepentingan yang tidak dibenar kan oleh ajaran-ajaran agama.

Tarikat Naqsyabandiah
Tarikat ini mula-mula didirikan di Turkestan oleh Bahiruddin Naqsyabandi (sumber lain menyebutkan, Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Bukhari 1317-1389M, bukan Imam Al-Bukhari perawi Hadits, pen) dan di Indonesia termasuk tarikat yang paling ber­pengaruh. Pimpinannya, Sulaiman Effendi, mempunyai markas besar yang terletak di kaki gunung Abu Qubbais di pnggiran kota Makkah. Pengikut-pengikutnya kebanyakan dari Turki dan wilayah-wilayah Hindia Belanda dulu, serta di bekas jajahan Inggris di daerah Melayu.
Pada umumnya tarikat ini paling banyak pengikutnya di Jawa sejak abad ke-19 sampai saat ini.
Tarikat ini adalah tarikat terbesar di dunia, juga di Indonesia, dan dianggap paling terawat baik. Ada seleksi untuk jadi pengi­kutnya. Markasnya di Jawa ada di Jombang, Semarang, Sukabumi, Labuhan Haji (Aceh) di pesantren Syaikh Waly, Khalidi.

Tarikat Qadiriah
Asal mulanya di Bagdad, dan dipandang paling tua. Pendirinya ialah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (1077-1166M). Mula-mula ia seorang ahli bahasa dan ahli Fiqih dari mazhab Hambali. Tulisannya pada umumnya berdasarkan ajaran Ahlus-Sunnah wal-Jama`ah. Ada sejumlah bukunya yang ditulis oleh murid-muridnya yang menceritakan kesaktiannya.

Pelajaran Tarikat Qadiriah tidak jauh berbeda dari pelajaran Islam umum. Hanya saja tarikat ini mementingkan kasih sayang terhadap semua makhluk, rendah hati dan menjauhi fanatisme dalam keagamaan maupun politik. Keistimewaan tarikatnya ialah zikir dengan menyebut-nyebut nama Tuhan.

Kaum Qadiriah terlalu menyamakan Tuhan dengan manusia. Paham Qadiriah pada hakikatnya adalah sebagian dari faham Mu`tazilah, karena imam-imamnya orang mu`tazilah. (Apa yang ditulis di Leksikon Islam ini, agaknya rancu dengan aliran Qada­riyah, yaitu aliran yang menganggap bahwa manusia ini bebas dan berkuasa penuh untuk menentukan dirinya, tidak ada campur tangan Tuhan, lawan dari aliran Jabbariyah yang menganggap manusia hanya bagai wayang yang seluruhnya dijalankan oleh dalang, semuanya digerakkan oleh Tuhan tanpa ada upaya manusia, pen. Selanjutnya, Leksikon Islam itu menulis:)

Ada anggapan membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani pada tanggal 10 malam tiap bulan bisa melepaskan kemiskinan. Karena itu manaqibnya populer, baik di Jawa maupun Sumatra. (Ini jelas bid’ah dan sesat, lihat Sorotan terhadap Kissah Maulid, Nisfu Sya’ban, Manakib Syaikh AK Jailany oleh HSAAl-Hamdany, Pekalon­gan, 1971, dan Kitab Manakib Syekh AbdulQadir Jaelani Merusak Aqidah Islam oleh Drs Imron AM, Yayasan Al-Muslimun Bangil Jatim, cetakan keenam, 1411H/ 1990, pen).
Kadang kala tarikat ini digabung dengan Naqsyabandiah menjadi Tarikat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Seperti halnya di Suryalaya (Tasikmalaya Jawa Barat, dipimpin Abah Anom, yang sering dikun­jungi Harun Nasution, pen) dan Jombang (Jawa Timur, daerah kelah­iran Presiden Gus Dur, pen).

Tarikat Qadiriah Naqsyabandiah
Gabungan ajaran dua tarikat, yaitu Tarikat Qadiriah dan Tarikat Naqsyabandiah. Pendirinya Syaikh Khatib Sambas. Tarikat ini merupakan sarana yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di Indonesia dan Malaya dari pusatnya di Makkah antara pertenga­han abad ke-19 sampai dengan perempat pertama abad ke-20.

Tarikat Rifa’iah
Didirikan oleh Syaikh Ahmad bin Ali-Abul Abbas (wafat 578H/1183M). Syaikh Ahmad, yang konon guru Syaikh Abdul Qadir Jilani, begitu asyik berzikir hingga tubuhnya terangkat ke atas, ke angkasa. Tangannya menepuk-nepuk dadanya. Kemudian Allah memerintahkan kepada bidadari untuk memberinya rebana di dadanya, daripada menepuk-nepuk dada.
Tapi Syaikh Ahmad tidak ingat apa-apa; begitu khusuknya, sehingga ia tak mendengar suara rebananya yang nyaring itu. Padahal selu­ruh dunia mendengar suara rebana itu.
Tarikat ini agak fanatik dan anggotanya dapat melakukan hal-hal yang ajaib, misalnya makan pecahan kaca, berjalan di atas api, dan sebagainya. Rifa`iah, yang memang merinci tarikatnya dengan rebana, di Aceh dulu pernah berkembang besar dan disebut Rapa’i sudah sulit mencarinya yang asli, yang masih berpegang teguh pada ajaran.

Tarikat Samaniah
Tarikat yang dikenal di Jawa Barat dan Aceh, didirikan oleh Syaikh Muhammad Saman Dari Madinah, Arab Saudi, yang wafat tahun 1702 M. Manaqib (riwayat hidup) Syaikh Saman banyak dibaca orang yang mengharap berkah. Manaqib itu ditulis oleh Syaikh Siddiq Al-Madani, murid beliau.
Di situ tertulis: “barang siapa berziarah ke makam Rasullah tanpa meminta izin kepada Syaikh Saman ziarahnya sia-sia.” (Ini contoh kebatilan yang nyata, pen).
Juga disebutkan: “Siapa yang menyeru nama Syaikh tiga kali, hilang kesedihannya. Siapa yang makan-makanannya masuk surga. Siapa yang berziarah ke makamnya serta membaca doa-doa untuknya, diampuni dosanya.” (ini benar-benar mengada-ada atas nama agama, na’udzubillahi min dzaalik, pen). Tarikat Saman sekarang menjadi tari Seudati di Aceh. Zikir Saman mulanya hampir sama dengan zikir-zikir yang lain. Namun kemudian berkembang menjadi zikir yang ekstrim.

Tarikat Sanusiah
Tarikat yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Ali As-Sanusi, tahun 1837, di Aljazair, meninggal dunia tahun 1957. Pusat tari­kat ini di Libia.

Tarikat Siddiqiah
Asal-usul tarikat ini tidak begitu jelas, dan tidak terdapat di negara-negara lain. Muncul dan berkembang di Jombang, Jawa Timur, dimulai oleh kegiatan Kiyai Mukhtar Mukti yang mendirikan tarikat ini tahun 1953.

Tarikat Syattariah
Tarikat yang dibangun oleh Syaikh Abdullah Syattari di India. Tarikat ini di Jawa masih ada, misalnya di sekitar Madiun. Di Aceh dulu mengalami puncaknya di zaman Sultanah (Ratu) Safiatud­din. Tarikat ini dibawa oleh Syaikh Abdurra’uf Sinkil yang kemudian bergelar Syiah Kuala.

Tarikat Syaziliah
Tarikat yang didirikan oleh Ali As-Syazili, terdapat di Afrika Utara, dan Arab, juga Indonesia, walaupun tidak luas tersebarnya dan pengaruhnya relatif kecil.

Tarikat Tijaniah
Tarikat yang didirikan oleh Ahmad At-Tijani. Tarikat ini dengan cepat meluas di Afrika Barat dan di negara-negara lain, antaranya Indonesia. Di Afrika tarikat ini telah banyak yang mengislamkan orang-orang Negro. (Ahmad At-Tijani ini mengaku dirinya adalah al-qothbul maktum yang menjadi perantara/ penengah antara semua anbiya’ (para nabi) dan auliya’ (para wali). Lihat Ilat Tashawwuf ya ‘Ibadallah oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Jam’iyyah Ihyait Turats al-Islami, hal 42, pen).

Tarikat Wahidiah
Tarikat yang ini didirikan oleh Kyai Majid Ma`ruf di Kedonglo, Kediri (Jawa Timur), 1963. Teoritis tarikat ini terbuka sifatnya, karena orang tidak usah mengucapkan sumpah untuk menjadi anggota: siapa saja yang mengamalkan zikir salawat wahidiah sudah dianggap sebagai anggota.

Motivasi mendirikan tarikat ini adalah meningkatkan ketaatan orang Islam kepada perintah-perintah agama. Pendirinya menganggap masyarakat Jawa dewasa ini mengalami kekosongan agama dan keji­waan. Itulah sebabnya ia mengajak masyarakat Islam agar mening­katkan ketakwaannya kepada Tuhan dengan setiap kali mengucapkan zikir “fafirruu ilallaah”, artinya: “marilah kita kembali ke jalan Allah.”

Begitulah beberapa tarikat dari buku Leksikon Islam 2.

Bantahan terhadap Tarikat

Ulama dan ilmuwan Indonesia yang gigih meluruskan bahkan membantah keras tentang tarekat di antaranya HSA Al-Hamdani dari Pekalongan Jawa Tengah dengan bukunya Bantahan Singkat terhadap Kelantjangan Pembela Tashawuf dan Tarekat, 1972; Sorotan-sorotan terhadap Kitab-kitab Wirid -Dzikir- Hizb Doa dan Sholawat; juga Sanggahan terhadap Tashawuf dan Ahli Shufi dan Sorotan terhadap Kissah Maulid, Nishfu Sya’ban, manakib Sjaich AK Djailany. Sang­gahan lain juga ditulis oleh Drs Yunasril Ali, dengan judul Membersihkan Tashawwuf dari Syirik, Bid’ah, dan Khurafat. Sedang Abdul Qadir Jaelani da’i dari Bogor Jawa Barat menulis bantahan dengan judul Koreksi terhadap Tasawuf. Juga bantahan-batahan yang ditulis dalam tanya jawab, misalnya oleh Ustadz Umar Hubeis dalam kitabnya, Fatawa dll.

Berikut ini kami kutip sebagian bantahan Drs Yunasril Ali, kemudian HSA Al-Hamdany. Sedang bantahan dari kitab-kitab Arab banyak pula, namun karena masalah tarekat ini orang Indonesia juga ikut-ikut mendirikannya (menciptakannya) bahkan mengorgani­sasikannya, maka kami kemukakan bantahan dari ulama dan ilmuwan Indonesia.

Drs Yunasril Ali dalam bukunya Membersihkan Tashawwuf dari Syirik, Bid’ah, dan Khurafat menjelaskan, masing-masing tarekat itu merumuskan amalan-amalannya sendiri-sendiri, sehingga antara satu dengan yang lain saling berbeda cara amaliahnya. Namun demikian amaliah yang berbeda-beda itu semuanya mereka nisbahkan kepada dua sahabat besar: Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Shid­diq. Entah mana yang benar di antara tarekat-tarekat itu yang berasal dari Ali dan Abu Bakar, wallahu a’lam.

Dasar mereka mendirikan tarekat ialah:

1. Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu, benar-benar Kami akan memberi minum mereka dengan air yang segar. ” (QS Al-Jinn/ 72:16).

2. Firman Allah SWT:
Artinya: “Maka barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah, hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia memperseku­tukan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhan.” (QS Al-Kahfi/ 18:110).

3. Hadits:
Qoola ‘Aliyyubnu Abii Thoolib: Qultu: Yaa Rasuulallaah, ayyut thoriiqoti aqrobu ilallooh? Faqoola Rasuulullaahi SAW: Dzikrul­loohi.

Artinya: Ali bin Abi Thalib berkata: saya bertanya: Ya Rasulal­lah, “Manakah tarekat yang sedekat-dekatnya mencapai Tuhan? Maka Rasulullah SAW menjawab, “dzikir kepada Allah.” (Dr Mustafazahri, Kunci Memahami Tasawwuf, halaman 87, seperti dikutip Drs Yunasril Ali halaman 54).

Koreksi (dari Drs Yunasril Ali): Di dalam Al-Quran didapati kata “thariqah” dan musytaqnya (pecahan kata yang berasal darinya) di sembilan tempat yaitu:

1. firman Allah SWT:
Artinya: “Mereka berkata: hai kaum kami, sesungguhnya kami men­dengar kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS Al-Ahqaaf/ 46:30).

2. Firman Allah SWT:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kedhaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa-dosa) mereka dan tidaklah akan menunjukkan jalan kepada mereka.” (QS An-Nisaa/ 4:168).

3. Firman Allah SWT (sambungan ayat no.2):
Artinya: “Kecuali jalan ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS An-Nisaa’/ 4:169).

4. Firman Allah SWT:
Artinya: “Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka!” Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan sehari saja.” (QS Thaha/ 20:104).

5. Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Israel) di malam hari, maka bikinlah untuk mereka
[1]jalan[1] yang kering di laut itu, kamu tidak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).” (QS Thah/ 20:77).

6. Firman Allah SWT:
Artinya: “Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.” (QS Thaha/ 20:63).

7. Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu benar-benar Kami akan memberi minum mereka dengan air yang segar.” (QS Al-Jinn/ 72:16).

8. Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh langit); dan Kami tidaklah lengah terha­dap ciptaan (Kami)”. (QS Al-Mu’minuun/ 23:17).

9. Dan Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan sesungguhnya di antara Kami ada orang-orang yang shalih dan di antara Kami ada pula orang yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS Al-Jinn/ 72:11).

Demikianlah penulis kutip di sini 9 buah kata “thariqah” dan musytaqnya yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran. Tidak satupun yang menunjukkan kepada tarekat yang dipropagandakan oleh penga­nutnya, yang mereka berdzikir tanpa sadar diri dan tidak pula ingat kepada Tuhan lagi.

Untuk lebih jelas, penulis kemukakan arti thoriqoh dalam ayat-ayat di atas dengan mengutipnya dari tafsir-tafsir yang mu’tabar, sebagai berikut:

1. Kata “thariqin” dalam surat al-Ahqaf ayat 30 artinya ialah “Agama Islam” (Al-Qasimy, Tafsir Mahasinut Ta’wil, juz XV hal. 94).
2. Kata “thariqon” dalam surat An-Nisaa’ ayat 168 artinya ialah “satu jalan dari jalan-jalan menuju jahannam”. (Al-Jalalain, Tafsir Al-Quranil Kariem, juz I, hal. 94).
3. Kata “thoriqo jahannam” dalam Surat An-Nisaa’ ayat 169 artinya ialah “jalan yang menyampaikan orang menuju jahannam”. (ibid).
4. Kata “thoriqoh” dalam Surat Thaha ayat 104 artinya ialah “jalan” (ibid, juz II, hal 26). Ada pula ahli tafsir yang mengatakan “jalan yang lurus” di sini ialah orang yang agak lurus pikirannya atau amalnya di antara orang-orang yang berdosa itu.

(Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, note hal. 488).

5. Kata “thoriqon” dalam S Thaha ayat 77 berarti “Allah menger­ingkan bumi sebagai jalan bagi Musa dan kaumnya.” (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 24).
6. Kata “thoriqoh” dalam S Thaha ayat 63 ada yang mengartikannya dengan “keyakinan (agama)” (Departemen Agama RI, Opcit, hal. 482). Dan ada pula yang menafsirkannya dengan “Bani Israel”. (Az-Zamakhsyary, Tafsir Al-Kassyaf, Jilid II, hal. 543).
7. Kata “thoriqoh” dalam S Al-Jinn ayat 16 artinya “jalan kebena­ran dan keadilan”. (Al-Qasimi, Tafsir Mahasinut Ta’wil, juz XVI, hal. 5950).
8. Kata “thoroiq” dalam surat al-Mu’minun ayat 17 artinya “lan­git”, thoroiq kata jama’ dari thoriqoh, karena dia adalah jalan-jalan malaikat.” (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 45).
9. Kata “thoroiq” dalam S Al-Jinn ayat 11 artinya “Golongan yang berbeda pendapat di kalangan muslimin dan kafir.” (ibid, hal. 240).

Inilah artinya kata “thoriqoh” dan musytaqnya yang ada dalam Al-Quran. Tidak satupun dari kata-kata itu yang menunjukkan metode ibadah dalam tasawwuf. Memang ada thoriqoh yang berarti golongan-golongan di kalangan kaum muslimin, tetapi maksudnya ialah golongan yang berbeda pendapat dalam menafsirkan Al-Quran dan Al-Hadits. Bukan golongan yang membuat-buat tarekat tertentu yang dihasilkan oleh renungan guru.

Kalaulah benar bahwa yang dimaskud dengan tariqat di dalam ayat-ayat itu ialah penjelasan dari Al-Quran dan As-Sunnah yang secara langsung dituntunkan dan dipraktekkan oleh seorang guru kepada muridnya, seperti menuntun bagaimana cara berdiri betul dalam shalat, bagaimana cara takbir, ruku’, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tahiyyat, cara membaca bacaan-bacan shalat, dan lain-lain; sesuai dengan cara yang ditentukan oleh Rasul SAW. kepada para shahabatnya, maka tarekat seperti ini dapat penulis terima, karena tarekat ini adalah sebahagian dari as-sunnah, yang disebut dengan sunnah fi’liyah. Jadi tarekat dalam pengertian seperti ini termasuk sunnah. Dan memang tarekat (sunnah fi’liyah) yang seperti inilah yang disuruh dalam mengajarkan agama. Rasu­lullah SAW pernah membimbing seorang Badwi dalam pelaksanaan shalat, karena orang Badwi tersebut belum tepat cara ia melaksa­nakan shalat. (Lihat Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, al-Muharrar, hal. 42).

Adapun membuat-buat ibadah dengan cara baru, lantas dinamakan tarekat, ini bid’ah. Contohnya ialah seperti mengadakan dzikir lisan, dzikir qolbu dan dzikir sirr; semuanya itu tidak pernah ada diriwayatkan dari Rasul SAW. atau dari para shahabat beliau. Jadi perbuatan ibadat seperti itu adalah bid’ah yang dibuat-buat oleh para penganut tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Padahal agama Islam, baik aqidah maupun tatacara ibadatnya sudah sempurna, tidak usah ditambah-tambah. (Drs Yunasril Ali, Member­sihkan Tasawwuf dari Syirik, Bid’ah, dan Khurafat, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, cet. III 1992, hal. 53-59).

Bantahan terhadap tarekat dalam polemik

Bantahan terhadap tarekat lainnya, bisa disimak polemik antara HSA Al-Hamdani dengan doktor (thabib) Rohani Sjech H Djalaluddin Ketua Umum seumur hidup Pengurus Besar PPTI di Medan.

HSA Al-Hamdani membantah orang yang menjadikan Surat Al-Fajr ayat 28 sebagai landasan tarekat sebagai berikut:

“…Anda (Thabib-Rohani Djamaluddin) antara lain menulis: Arti ma’na Tharekat pada istilah (adalah) perjalanan rohani (nurani, jiwa, hati robani) berjalan mencari Allah. Perjalanan yang bertingkat-tingkat dari satu tingkat demi satu tingkat, hingga ia bertemu Allah. Lihatlah QS al-Fajari ayat no. 28; maksudnya kira-kira: kembali (pergilah, berjalanlah, bertarekatlah kepada Tuhanmu (Allah). Kemudian Anda menulis: Mengingat ayat yang tersebut merupakan amar wajib, tentulah wajib bagi kita ber-Tharekat.”

Komentar HSA Al-Hamdani ulama Al-Irsyad Pekalongan terhadap lawan polemiknya, Thabib Djamaluddin, itu sebagai berikut:

Semoga Allah mengampuni dosa anda (Thabib-Rohani Djamaluddin), karena anda telah menafsirkan ayat Tuhan semau anda sendiri! Bacalah tafsir ayat itu menurut rangkaian ayat sebelum­nya, jangan terus mendabik dada dan berkata: Saya sudah hafal bertahun-tahun di dalam fikiran saya di waktu saya mempertahankan tasawuf di masa silam… dan seterusnya. Jangan anda menafsirkan se-enaknya sendiri, dan jangan pula semau-maunya menta’wilkan arti ayat al-Quran menurut selera yang dikehendaki nafsu anda! Sebab bisa tak keruan dan bisa runyam!
Tahukah anda bahwa ayat itu (yang anda buat dalil perintah ber­tarekat) adalah kelanjutan daripada ayat yang sebelumnya yang berbunyi:

Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah, fadkhulii fii ‘ibaadii wadkhulii jan­natii.

Yang artinya: Hai jiwa yang tenang (suci). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas (karena amal-amalmu yang baik semasa hidup) lagi diridhoinya (oleh Allah). Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaku (yang sholeh) dan masuklah ke dalam sorgaKu. (QS Al-Fajri).

Jelas bahwa khitob (ajakan bicara) itu ditujukan kepada jiwa-jiwa manusia yang sempurna imannya yang muslimin mukminin dan muttaqin pada nanti hari kiamat kelak sebagai penghargaan Allah atas amalan mereka yang baik dan sholeh. Dan kalau ayat itu anda katakan sebagai amar wajib bertarekat, maka wajib bertarekatkah anda pada hari kiamat nanti untuk mencari Allah?

HSA Hamdani melanjutkan tulisannya: Memang orang-orang ahli tharekat atau ahli shufi suka lancang dalam menafsirkan ayat-ayat semaunya sendiri seperti yang anda katakan: “Di Pakistan Barat dikatakan sulukan naksyabandi, unsurnya QS An-Nahl no. 69, mak­sudnya kira-kira: Dan laluilah jalan (Tharekat) Allah dengan patuh. Sedang ayat yang dimaksud artinya sebagai berikut:

Ayat 68 S An-Nahl: Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah: Buatlah rumah di atas bukit dan di atas pohon kayu dan pada apa-apa yang mereka jadikan atap.

Ayat 69: Kemudian makanlah berma­cam-macam buah-buahan dan laluilah jalan Tuhanmu, dengan mudah akan keluar dari dalam perutnya minuman (madu) yang berlain-lainan warnanya, untuk menyembuhkan penyakit manusia. Sesungguh­nya pada yang demikian itu menjadi keterangan (atas kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Jelas khitob ayat itu menyatakan bahwa Allah memerintahkan kepada lebah untuk mengikuti ilham yang diberikan oleh Allah kepadanya, sehingga lebah itu dapat menghasilkan madu. Maka oleh anda digunakan untuk dalil tarekat? (HSA Al-Hamdani, bantahan Singkat terhadap Kelantjangan pembela Tashawuf dan Tarekat,

Penerbit HSA Al-Hamdani, Pekalongan, cetakan pertama, 1972, halaman 14-15).

Pertanyaan selanjutnya, pembaca bisa mengajukan sendiri, misalnya: Kenapa tarekat-tarekat yang ternyata tidak ada landa­sannya dari Al-Quran maupun al-Hadits itu justru dihidup-hidup­kan? Dan kenapa justru ada organisasi yang memayungi dengan bentuk organisasi pula seperti tersebut di atas? Tugas para alim

ulama –yang istiqomah mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah– lah untuk melanjutkan dakwah terhadap mereka dengan hikmah dan mau­’idhah hasanah, dan kalau perlu dengan wajadilhum, yaitu mendebat mereka dengan hujjah yang lebih baik.

mudah-mudahan bermanfaat toek yg membaca

sumber artikel; Tasawuf Belitan Iblis, Hartono Ahmad Jaiz

Oleh: ewon | Oktober 3, 2007

pemahaman tasauf

MAKNA TARIQAT

Pengertian “Tariqat” – menurut bahasa artinya “jalan”, “cara”, “garis”, “kedudukan”,  “keyakinan” dan “agama”.

          1. jalan;

2. jalan untuk mencapai kebenaran (dalam tasauf);

  •   3. tertib hidup (mengikut peraturan agama atau ilmu kebatinan);

4. perkumpulan penuntut ilmu tasauf.

Kamus “Modern Dictionary Arabic – English” oleh Elias Anton dan Edward Elias, edisi IX, Cairo tahun 1954 menyatakan bahawa “Tariqat” ialah “way” (cara atau jalan) “methode” dan sistem of belief” (methoda dan satu sistem kepercayaan).

Kata “Tariqat” disebutkan Allah dalam Al-Quran sebanyak 9 kali dalam 5 Surah, dengan mengandungi beberapa erti sebagai berikut :

1. Surah An-Nisa’ : 168 -

Maksudnya : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman,   Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka.”
 

2. Surah An-Nisa’ : 169 -

Maksudnya : “Melainkan jalan ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

3. Surah Thoha : 63 -

Maksudnya : “Mereka berkata : “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan “kedudukan” kamu yang utama.”

Ayat itu menerangkan kedatangan Nabi Musa a.s. dan Harun ke Mesir, akan menggantikan Bani Israil sebagai penguasa di Mesir. Sebahagian ahli tafsir mengertikan “Tariqat” dalam ayat ini dengan “keyakinan” (Agama).”

Menurut Ibnu Manzhur (630 – 711H) dalam kitabnya “Lisanul Arab” jilid 12 halaman 91, erti “Tariqat” dalam ayat itu adalah “ar-rijalul asyraf”,   bermakna “tokoh-tokoh terkemuka”.

Jadi ayat itu bererti, kedatangan Nabi Musa dan Harun ke Mesir adalah untuk mengusir kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan jamaah atau tokoh-tokoh terkemuka kamu.”

Lebih jauh Ibnu Manzhur menyatakan “hadza thariqatu Qaumihi”…artinya “inilah tokoh-tokoh pilihan kaumnya.”

Al-Akhfasy menyatakan “bithariqatikumul mutsla” artinya “dengan Sunnah dan agama kamu yang tinggi.”

“Tariqat” berarti juga “al-khaththu fis-syai-i”…ertinya “garis pada sesuatu.”

“Thariqatul baidhi”…ertinya “garis-garis yang terdapat pada telur.”

“Thariqatul romal”…ertinya “sesuatu yang memanjang dari pasir – ma imtadda minhu.”

Al-Laits menyatakan “Tariqat” ialah “tiap garis di atas tanah, atau jenis pakaian, atau pakaian yang koyak-koyak. Itulah “Tariqat”nya.

“Tariqat” jama’nya “tharaiq”, bererti “tenunan dari bulu”, berukuran 4 sampai 8 hasta kali satu hasta, dipertautkan sehelai demi sehelai.”

Menurut Tafsir “Al-Jamal” jilid 3, hal. 99, “bithariqatikumul mutsla”…dalam Surah Thoha : 63 itu, ertinya “bi-asyrafikum”, bermakna “dengan orang terkemuka kamu.” Kata “Tariqat” itu dipergunakan untuk tokoh-tokoh terkemuka, kerana mereka itu menjadi ikutan dan anutan orang
banyak, sebagaimana diertikan juga demikian oleh Abu As-Su’ud.

Dalam “Mukhtarus Shihhah”, disebutkan “wa thariqatul qaumi” ialah “amatsiluhum dan jiaduhum”, ertinya “orang-orang besar dan terbaik di antara mereka.”

“At-thariqatu” diertikan juga “syariful qaumi”, bermakna “tokoh terjormat suatu kaum”.

Tafsir Ibnu Katsir jilid 3, hal. 157 menyatakan, “bi thariqatikumul mutsla” itu dengan “wa hia as-sihru”, ertinya “sihir”.

Ibnu Abbas mengertikannya dengan “kerajaan mereka yang mereka bekerja dan mencari kehidupan di dalamnya.”

As-Sya’bi menafsirkannya dengan “Harun dan Musa memalingkan perhatian orang banyak kepada mereka.”

Mujahid mengertikannya dengan “orang-orang terkemuka, cerdas dan lanjut usia di antara mereka.”

Abu Shaleh mengertikannya dengan “orang-orang mulia di antara kamu.”

Ikrimah mengartikannya dengan “orang-orang terbaik di antara kamu.”

Qatadah menyatakan “bithariqatikumul mutsla” mereka pada masa itu adalah Bani Israil.

Abdurrahman bin Zaid mengertikannya dengan “Billadzi antum ‘alaihi”…ertinya “dengan yang kamu berada di atasnya.”

Tafsir Al-Kahzin jilid 3, hal. 273, mentafsirkan ayat itu dengan “yudzahiba bi sunnatikum wa bi dinukum al-ladzi antum ‘alaihi”, bermakna “Keduanya,   yakni Musa dan Harun akan melenyapkan sunnah dan agama kamu yang kamu anut.”

Tafsir Al-Baghawi jilid 4, hal. 273, orang Arab menyatakan “fulanun ‘alat thariqatil mutsla”, maksudnya ialah “ala shirathim mustaqim”, bererti si Anu berada atas jalan yang lurus.

4. Surah Thoha : 77 -

Maksudnya : “Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa : Pergilah kamu dengan hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka “jalan” yang kering di laut itu, kamu tidak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).”

Kata-kata “Tariqat” dalam ayat itu bererti “jalan” di laut, dan terbelahnya Lautan Merah untuk jalan bagi Nabi Musa dan pengikut-pengikutnya itu terjadi setelah memukulkan tongkatnya.

5. Surah Thoha : 104 -

Maksudnya : “Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan ketika berkata “orang yang paling lurus” jalannya di antara mereka : “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari sahaja.”

Adapun yang dimaksudkan dengan “lurus jalannya” dalam ayat itu ialah orang yang agak lurus fikirannya atau amalannya di antara orang-orang yang berdosa itu.

6. Surah Al-Ahqaf : 30 -

Maksudnya : “Mereka berkata : “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada “jalan” yang lurus.”

7. Surah Al-Mukminun : 17 -

Maksudnya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit) dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).

8. Surah Al-Jin : 11 -

Maksudnya : “Dan sesungguhnya di antara kami dan orang-orang yang soleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adakah kami menempuh “jalan yang berbeda-beda?”

Al-Farra’ mengertikan “kunna Tharaiqa qidada” dalam ayat itu dengan “kunna Firaqan mukhtalifah”, bermakna adalah kami beberapa kelompok yang berbeda-beda.

9. Surah Al-Jin : 16 -

Maksudnya : “Dan bahawasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).”

Kata “Tariqat” dalam ayat itu bererti “agama Islam”.

Demikianlah beberapa makna kata “Tariqat” dari segi bahasa.
 

Tariqat Menurut Kalangan Sufi

Adapun “Tariqat” menurut istilah Ulama’ Tasauf :

1. “Jalan kepada Allah dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Fiqah dan Tasauf”.
["Al-Ayatul Baiyinat"  hal. 23, oleh Syeikh Ahmad Khathib.]

2. “Cara atau kaifiat mengerjakan sesuatu amalan untuk mencapai sesuatu tujuan.”
["Ilmu Tariqat Dan Hakikat" hal. 69, oleh T.H. Abdullah Ujong Rimba]

Berdasarkan beberapa definasi yang tersebut di atas, jelaslah bahawa Tariqat adalah suatu jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Fiqih dan Tasauf.

Sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah dan yang dicontohkan beliau serta dikerjakan oleh para Sahabatnya, Tabi’in, Tabi’it Tabi’in dan terus turun-temurun sampai kepada Guru-guru, Ulama’-ulama’ secara bersambung-sambung dan bersantai hingga pada masa kita ini.

Suatu contoh dapat diketahui, bahawa di dalam Al-Quran hanya dapat dijumpai adanya ketentuan kewajipan solat (sembahyang), tetapi tidak ada satu ayat pun yang memberikan perincian tentang raka’at solat tersebut. Misalnya saja solat Zohor sebanyak 4 rakaat, Asar 4 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya’ 4 rakaat dan Subuh 2 rakaat. Demikian pula terhadap syarat dan rukunnya
solat-solat tersebut. Rasulullah SAW lah sebagai orang pertama yang memberikan contoh-contoh dan cara-cara mengerjakan solat-solat maktubah itu dengan melalui perbuatan yang ditunjukkan dan ditiru oleh para Sahabatnya terus turun-temurun sampai kepada kita ini lewat pelajaran-pelajaran dan petunjuk yang diberikan oleh para Guru, Syeikh dan para Ulama’.

Hal ini bukan bererti, bahawa Al-Quran sebagai sumber pokok hukum dalam Islam itu tidak lengkap, Sunnah Rasul dan Ilmu Fiqeh yang disusun oleh para Ulama’ tidak sempurna, akan tetapi sebetulnya masih banyak penjelasan yang diperlukan ummat agar perlaksanaan peraturan dan ketentuan Allah dan Rasul-Nya dapat menurut penerimaan atau penangkapan akal bagi orang yang hanya mampu membaca, menghayati dan memahami yang pada puncaknya orang ini akan mengerjakan syariat Islam sesuai dengan kemauan hawa nafsunya sendiri.

TASAUF/TARIQAT TERMASUK ILMU MUKASYAFAH

PENYAMPAI ilmu Tasauf/Tariqat memang sukar atau susah dapat difahami oleh akal manusia biasa, kerana erti maksudnya terlampau seni. Itu sebablah hampir saja di seluruh kalangan para ahli Sufi berpendapat, bahawa sebenarnya Tariqat/Tasauf itu adalah termasuk ke dalam kerangka Ilmu
Mukasyafah atau ilmu “Di Sebalik Tabir” yang dapat memancarkan cahaya ke dalam hati para penganutnya (pengamal). Sehingga dengan cahaya (Nur) itu terbukalah segala sesuatu yang ada di balik rahsia ucapan-ucapan Nabi dan demikian pula halnya terhadap segala sesuatu yang ada di balik rahsia cahaya Allah.

Ilmu Mukasyafah tidak begitu sahaja mudah dipelajari, kecuali bila ditempuh dengan melalui jalan latihan batin (Riyadhah) dan perjuangan melawan hawa nafsu (Mujahadah). Dengan kesungguhan menempuh jalan yang demikian ini, maka sedikit demi sedikit akan menjadi terbuka segala yang ghaib di balik hijab yang mendinding antara hamba dengan Tuhannya, sehingga dapatlah bermusyahadah (menyaksikan sendiri). Dengan penglihatan hati (Musyahadatul Qalbi) bukan dengan penglihatan mata. Sebab penglihatan mata ini, hanyalah merupakan alat belaka dari penglihatan hati. Buta dalam perkara ini bukanlah buta mata, tetapi buta hati dalam dada.

Dari sinilah maka sesungguhnya syariat yang dikerjakan dapat berjalan di atas landasan yang lurus, tidak terpeleset jatuh ke dalam jurang kesesatan, sehingga terhalang untuk dapat sampai kepada yang dituju. Yakni untuk siapa sebenarnya syariat itu dikerjakan. Jawabnya : “Hanya untuk Allah” yang
dituju.

Demikian yang ada pada akhirnya manusia ini akan dapat menemukan hakikat kebenaran hidup yang sejati.
 

TUJUAN MENGAMALKAN TASAUF

AMALAN Tasauf/Tariqat sebagaimana yang lazim dikerjakan oleh para jamaah,  sebenarnya banyak sekali tujuan yang hendak diperoleh antara lain iaitu :

1. Dengan mengamalkan Tasauf/Tariqat bererti mengadakan latihan jiwa (Riadhah) dan berjuang melawan hawa nafsu (Mujahadah), membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan diisi dengan sifat-sifat terpuji dengan melalui perbaikan budi pekeri dalam berbagai seginya.

2. Selalu dapat mewujudkan rasa ingat kepada Allah Zat Yang Maha Besar dan Maha Kuasa atas segalanya dengan melalui jalan mengamalkan wirid dan zikir disertai tafakkur yang secara terus menerus dikerjakan.

3. Dari sini timbul perasaan takut kepada Allah sehingga timbul pula dalam diri seseorang itu suatu usaha untuk menghindarkan diri dari segala macam pengaruh duniawi yang dapat menyebabkan lupa kepada Allah.

4. Jika hal itu semua dapat dilakukan dengan penuh ikhlas dan ketaatan kepada Allah, maka tidak mustahil akan dapat dicapai suatu tingkat alam ma’rifat, sehingga dapat pula diketahui segala rahsia di balik tabir cahaya Allah dan Rasul-Nya secara terang-benderang.

5. Akhirnya dapat diperoleh apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup ini.

Demikian antara lain beberapa tujuan yang akan diperoleh bagi setiap orang yang mengamalkan Tasauf/Tariqat. Jelasnya ia akan dapat mengerjakan syariat Allah dan Rasul-Nya dengan melalui jalan atau sistem yang menghantarkan tercapainya tujuan hakikat yang sebenarnya sesuai dengan yang dikehendaki oleh syariat itu sendiri.

Sama sekali tiada tujuan negatif yang terselit di dalamnya, sehingga dapat menggelincirkan ummat untuk jatuh ke dalam kesesatan. Sebagaimana yang sering dituduhkan oleh orang-orang yang belum mengetahui seluk-beluk ilmu Tasauf/Tariqat. Mereka dengan gaya gegabah berani melontarkan perasangka buruk terhadap Ulama’-ulama ahli Sufi dikatakan sebagai orang yang mengajarkan amalan-amalan yang menyerupai ibadah yang tidak pernah dijumpai tuntunannya, baik dari Allah mahu pun Rasul-Nya.

Apa yang dituduhkan mereka itu justeru berbalik dengan kenyataan, bahawa para Ulama’ ahli Sufi yang telah lama mengajarkan amalan-amalan baik tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Mereka para Ulama’ Guru dan Syeikh sama mengajarkan amalan Tasauf/Tariqat yang sentiasa bersumber dari ajaran Al-Quran dan Al-Hadis yang diterima secara ittishal sampai kepada beliau Rasulullah SAW sendiri. Bahkan apa yang hendak dicapai oleh ajaran kesufian ini telah jelas sekali yakni mengerjakan syariat dengan jalan yang teratur sesuai dengan semestinya guna memperoleh tujuan hakikat hidup yang sebenar-benarnya.
 

DASAR HUKUM TASAUF

DALAM pembahasan masalah dasar hukum Tasauf/Tariqat ini, sebenarnya dapat dilihat melalui beberapa segi yang terdapat di dalam Tasauf/Tariqat itu sendiri, sehingga dari sini aan dapat diketahui secara jelas tentang kedudukan hukumnya di dalam Islam. Di samping itu juga untuk menghindarkan
adanya penilaian yang negatif terhadap Tasauf/Tariqat.

Menurut penyelidikan para Ulama’ ahli Sufi yang mu’tabarah, sebenarnya dasar hukum Tasauf/Tariqat dapat dilihat dari segi-segi yang antara lain adalah sebagai berikut :

Pertama : Dari segi existetensi amalan tersebut yang bertujuan hendak mencapai pelaksanaan syariat secara tertib dan teratur serta teguh di atas norma-norma yang semestinya dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, yang bermaksud :

“Dan bahawasanya, jikalau tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam) benar-benar Kami akan memberikan minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).”[Al-Jin : 16]

Ayat ini oleh para Ulama’ ahli Sufi dijadikan pegangan hukum dasar melaksanakan amalan-amalan yang diajarkan. Meskipun masih ada sebahagian orang yang menentang dijadikannya ayat itu sebagai dasar hukum tersebut (Tasauf).

Menurut tinjauan Ulama’ Sufi ayat di atas secara formal (bunyi lafaznya) mahu pun material (isi yang tersirat di dalamnya) adalah jelas merupakan tempat sumber hukum diizinkan melaksanakan amalan-amalan kerohanian. Kerana dengan mengamalkan Tasauf/Tariqat akan dapat diperoleh tujuan melaksanakan syariat Islam yang sebenar-benarnya sesuai dengan yang mesti dikehendaki
oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kedua : Dari segi materi pokok amalan Tasauf/Tariqat yang berupa wirid zikrullah, baik yang dilakukan secara Mulazamah iaitu secara terus-menerus, ataupun yang dilakukan secara Mukhalafah maksudnya terus menerus menghindarkan diri dari segala sesuatu yang dapat membawa akibat lupa kepada Allah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, bermaksud :

“Hai orang-orang yang berIman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”[Al-Ahzab : 41-42]

Melihat maksud ayat ini, maka jelas bahawa Allah telah memerintahkan kepada sekalian orang yang beriman untuk tetap sentiasa berzikir dan bertasbih dengan menyebut nama “Allah” baik dilakukan pada waktu pagi atau petang,  siang atau malam.

Jadi amalan zikir sebagaimana yang terdapat di dalam firman Allah Ta’ala tersebut adalah jelas bersifat “Muthlaq” yang belum nampak ada “Qayyid” nya.  Dalam erti bahawa syariat zikir, bentuk asal hukumnya masih global.   Rasulullah SAW sendiri tidak banyak memberikan perincian atau “Qayyid“, baik yang berbentuk syarat-syarat, rukun-rukun ataupun kifiat-kifiat.

Dari sini maka tugas ummat inilah yang diberi kuasa untuk menciptakan  syarat, rukun, dan kifiat-kifiat zikrullah asalkan ianya tidak menyimpang dari tuntutan syara’ secara prinsipil. Itulah sebabnya maka para Ulama’ Sufi  sama menciptakan zikrullah dengan syarat-syarat dan rukun-rukun tertentu serta bentuk kifiat yang bermacam-macam. Misalnya tentang waktunya,   jumlahnya, cara membacanya dan sebagainya.

Ketiga : Dari segi sasaran pokok yang hendak dicapai dalam mengamalkan   Tasauf/Tariqat yakni terwujudnya rasa cinta antara hamba dengan Allah lantaran ketekunan dan keikhlasan dalam menjalankan syariat-Nya secara utuh dan terasa indah oleh pantulan sinar cahaya Allah.

Sebagaimana diterangkan di dalam Hadis Rasulullah SAW, bermaksud :

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata bahawa pada suatu hari Nabi berada  di tengah-tengah sekelompok orang banyak, tiba-tiba ada seorang laki-laki (Jibrail) datang kepadanya seraya bertanya : Apakah Iman itu? Nabi menjawab:

  RUKUN IMAN YG WAJIB DI KETAHUI

1. Kamu percaya adanya Allah.
2. Dan percaya kepada Malaikat-Nya.
3. Percaya akan khitab (alquranul karim)Nya.
4. Percaya terhadap para Rasul-Nya.
5. Percaya kepada adanya hari kebangkitan(takdirbaek &buruk).

   Selanjutnya laki-laki tersebut bertanya lagi kepada Nabi : Apakah Islam itu?  Jawab Nabi : Islam ialah menyembah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya,   mengerjakan solat (fardhu), menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan. Kemudian  laki-laki itu bertanya lagi kepada diri Nabi : Apakah Ikhsan itu? Jawab Nabi : Ikhsan iaitu keadaan engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sekiranya engkau tidak melihat-Nya maka Allah melihat engkau.”[HR. Bukhari]

Dalam Hadis ini dapat difahami adanya beberapa pengertian bahawa kehidupan agama dalam jiwa seseorang akan menjadi sempurna jika dapat dikumpulkan tiga faktor pokok yang sangat menentukan, iaitu Iman, Islam dan Ikhsan. Masing-masing dapat dicapai lantaran mempelajari dan memahami serta mengamalkan ilmu-ilmu yang membicarakan tentang masalahnya. Para Ulama’ dari
kalangan aliran/mazhab apa pun sama berpendirian bahawa faktor Iman dapat dipelajari daripada ilmu pengetahuan yang dinamakan Ilmu Usuluddin atau Ilmu Kalam atau juga Ilmu Tauhid. Sedang Islam dapat dipelajari daripada Ilmu  Fiqeh atau sering juga dikenal dengan sebutan Ilmu Syariat. Demikian pula halnya dengan Ikhsan dapat dicapai dengan mempelajari dan mengamalkan Ilmu
Tasauf/Tariqat.

Iman, Islam dan Ikhsan, ketiganya berkaitan erat dalam mencapai sasaran pokok yakni “Mengenal Allah untuk diyakini”. Hal ini menuntut terwujudnya sikap tindak perbuatan nyata dalam hidup ini, sebagai bukti kepatuhan melaksanakan segala yang diperintah, dikerjakan dan yang dilarang
ditinggalkan dengan penuh ikhlas kerana Allah semata disertai penuh rasa cinta terhadap-Nya. Manakala keadaan semacam ini sudah sampai pada puncaknya maka akan tercapailah hakikat tujuan hidup yang sebenarnya sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah sendiri pada syariat yang dibawa Muhammad SAW.

CARA AHLI TASAUF/TARIQAT DALAM MENGENAL ALLAH

BAGI para ahli Tasauf/Tariqat ada cara tersendiri di dalam mengenal Tuhan.  Mereka sama meletakkan dasar-dasar teori pengenalan Tuhan yang tidak bersifat rasional. Berbeda dengan dasar-dasar teori pengenalan Tuhan yang berlaku bagi kalangan ahli Theology Islam (Ilmu Tauhid) dan juga berbeda dengan yang berlaku bagi kalangan ahli syariat (Ilmu Fiqih).

Bagi ahli Fiqah cara yang dipergunakan dalam mengenal Tuhan ialah dengan jalan keterangan dari dalil-dalil Naqli (Al-Quran dan Hadis). Di dalam memperkuat kepercayaan maka Al-Quran tidak dipergunakan sebagai alasan-alasan logika atau dengan penyelidikan akal fikiran seperti yang
terjadi di dalam falsafah. Berbeza dengan Ahli Kalam (Tauhid), di dalam cara mengenal Tuhan banyak mempergunakan jalan penyelidikan akal fikiran. Dengan dasar ini maka mengetahui siapa Tuhan, meskipun belum tentu mereka dapat menyaksikan Tuhan. Termasuk dalam golongan yang memakai cara ini ialah kaum “Failasof”.

Lain halnya dengan ahli Tasauf/Tariqat, mereka dapat mengenal Tuhan melalui dasar-dasar teori perasaan hati lantaran Ilham yang dilimpahkan Allah ke dalam jiwa manusia sebagai bentuk wujud pemberian rahmat-Nya. Hal ini lazimnya dapat dicapai oleh manusia ketika ia telah dapat sampai ke jinjang diri peribadinya dilepaskan dari segala macam bentuk godaan hawa nafsu lampau dengan memusatnya fikiran ingat kepada Zat Yang Maha Kuasa.

Keadaan yang demikian ini mengakibatkan segala macam rahsia di balik hijab cahaya Allah dan Nabi-Nya dapat tersingkap oleh dirinya dan diketahui secara jelas pada penglihatan mata hati. Sebagaimana orang yang melihat air jernih yang berada di dalam gelas yang jernih pula, sehingga segala sesuatu yang ada di balik gelas yang jernih itu dapat dilihat dengan terang-benderang.

Huraian di atas memberikan penegasan bahawa kerana adanya perbezaan dasar-dasar pengenalan Tuhan yang berlainan di antara ahli Fiqeh dan ahli Tauhid dengan ahli Tasauf/Tariqat, maka selayaknya sering menimbulkan perbezaan di dalam cara menyelidiki Tuhan dengan segala akibatnya (daripada sesuatu perbuatan).

Akhir-akhir ini perbezaan tersebut mulai terungkap lagi di sana sini. Ada sementara orang yang berbicara manis soal Tasauf/Tariqat dengan penuh kelicikan menggunakan gaya “ahli pemberi fatwa agama”, sering menyampaikan pendapat, baik pada lisan atau pun tulisan yang menganggap Ulama’ ahli Tasauf/Tariqat dengan terang-terangan menyesatkan ummat terutama bagi para jamaahnya.

Perlu diketahui bahawa biasanya orang yang suka menggelabah jalan fikirannya sebagaimana anggapan negetif terhadap Ulama’ Tasauf/ Tariqat itu adalah akibat adanya kekurangan pengertian terhadap masalahnya. Sedangkan faktor-faktor yang mendorong timbulnya fikiran semacam itu antara lain adalah sebagai berikut :

A. Adanya pendangkalan pengertian tentang Islam, seringkali hal ini menyebabkan Islam hanya dilihat dari satu dimensi tidak secara keseluruhan dan bulat.

B. Adanya ilmu-ilmu yang diperoleh tidak pada Guru Mursyid atau Syeikh, melainkan diambilkan dari hasil membaca buku-buku dengan upaya sendiri. Akibatnya jalan fikiran benyak dipengaruhi oleh hawa nafsu.

C. Mereka cenderung mengambil dasar-dasar fikiran di dalam mengungkap Islam justeru bersumber dari dasar-dasar fikiran kaum “rasionalis matrialisme”, yakni fahaman yang beranggapan segala sesuatu dalam hidup harus dapat dipecahkan secara rasional dan dapat dilihat oleh pancaindera. Dasar teori “rasionalis matrialisme” inilah yang sering dipergunakan landasan berfikir kaum orientalis di dalam membahas tentang hal ke Timuran yakni tentang Islam dari berbagai aspeknya.

D. Mereka mudah mengeluarkan fatwa “Mari kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadis”, tetapi mereka sendiri banyak menyimpang dari tuntutan yang semestinya tercantum di dalam Al-Quran dan Al-Hadis itu sendiri.

E. Adanya faktor alat-alat pelengkapan yang sangat dirasa kurang sekali, untuk keperluan mengadakan pembongkaran dan penelitian terhadap konstruksi bahasa Islam (Bahasa Arab). Seperti tidak menguasai Ilmu Lughat dengan Qawaidnya, Ilmu Hadis dengan Musthalahnya, Ilmu Balaghah, Badi’, Bayan dan Ma’aninya, dan lain-lain. Akibat yang ditimbulkan oleh kekurangan ini ialah
mereka sering mengalami kesulitan di dalam memahami dan membahas kalam Al-Quran yang banyak berbentuk fasekh, baligh dan bahkan banyak yang majaz.

Faktor-faktor di atas itulah di antara penyebab mereka mudah tergelincir dalam kekeliruan yang tiada dirasa. Oleh kerana itu tidak mustahil mereka dengan mudah tanpa ambil pusing terus cepat-cepat melontarkan anggapan bahawa para ahli Tasauf/Tariqat adalah sebagai orang yang hanya akan
mengajak ummat atau jamaah untuk menjadi sesat dan bahkan dapat berakibat syirik dan kafir. Na’uzubillah himin zalik!

Padahal dengan penjelasan tentang dasar hukum dan tujuan Tasauf/Tariqat Mu’tabarah di muka tadi, adalah jelas sentiasa sesuai dan berdiri tegak di atas tuntunan dan petunjuk langsung baik dari Al-Quran maupun Al-Hadis.

Wallahu ta’ala a’lam…….

Wassalamu…….

editan cara-ciri,ciri-cara al’ilmu

Oleh: ewon | Oktober 2, 2007

pemahaman tasauf

AKIBAT tidak mengenal Allah, manusia telah begitu jauh terlanjur sesat di dalam kancah kehidupan dunia yang porak peranda sehingga tercetus berbagai bentuk kerusakan demi kerusakan yang tidak pernah terduga oleh kita.

 kita perlu  suatu disiplin ilmu yang tumbuh bersih sesuai dengan pertumbuhan fitrah seorang manusia. perkara ini telah pernah dilakukan oleh junjungan besar Nabi Muhammad SAW

catatan sejarah. Beliow  membawa kunci kepada suatu dimensi (dimension) baru kehidupan yaitu membawa manusia mengenal Allah (ma’rifatullah) dengan sebenar-benarnya pengenalan.

DUNIA semakinpenuh huru-hara, kacau-bilau sehingga menjerumuskan manusia hidup dalam krisis   yang tidak berkesudahan, peperangan,  pembunuhan, pencabulan hak asasi, perogulan, perzinahan dan berbagai-bagai kerusakan yang lain.seumpama ini berlaku di waktu dunia sedang menikmati puncak kemajuan serta kecanggihan sains dan telnologi.

Di waktu manusia mampu menguasai dan memperkosa semau-maunya segala khazanah yang tersimpan di perut bumi. Tetapi malang sekali, di atas kemajuan kebendaan itu,  insaniah  manusia hancur.Manusia seolah-olah sudah bertukar menjadi hewan dan kehidupan  manusia bagaikan kehidupan hewan di dalam hutan belantara, yang  gagah hidup, yang lemah menyerah. Unsur timbang rasa, tolak ansur, bantu-membantu,  sayang-menyayangi, hormat-menghormati sesama manusia sudah sirna.

SUASANA dunia yang sungguh menyesakan ini, membuat kita begitu terkesan,  heran, terkejut dan bertanya-tanya , mendorong diri ini untuk meniliti dan mengkaji di manakah puncak  atau akar umbi kepada seluruh permasalahan ini.

Oleh kerana itu, kita perlu melihat ke arah atau   lain dalam usaha menangani persoalan ini. Kaedah   perlu diwujudkan segera kerana dua faktor :

1.  puncak masalah sebenar dikenal-pasti dan diubati atau diselesaikan dengan tepat. Akibat  salah menilai puncak maka sasaran penyelesaian selama ini kerap tersasar.   masalah sedikit pun tidak menunjukkan petanda berkurang tetapi semakin bertambah dengan  maju. Apabila puncak telah dikenal-pasti, maka orang atau pemimpin yang mampu atau layak untuk menanganinya juga akan dikenal-pasti.

2. Memberi nilai atau arti kehidupan baru yang lebih bermakna untuk manusia.manusia kerapkali   mendapatkan perkara yang kurang bernilai dan sambil lewat saja terhadap perkara yang berharga. Dengan membawa tafsiran baru tentang kehidupan, seperti matlamat hidup, kebahagiaan, ketenangan, kasih-sayang, maka hidup seluruhnya akan berubah.

Dalam kehidupan seharian ini kita banyak melakukan kehilapan pentafsiran dan pemahaman berhubung dengan soal-soal kehidupan terutamanya berkaitan dengan aqidah.

 Kita lebih mudah terpesona dengan sesuatu kepercayaan dan ajaran yang berbentuk khayal (fantasi). Kita seronok menerima sesuatu yang bersifat kesaktian (karomah hidup), meskipun ia jauh dari kebenaran dan membawa kepada kesyirikan. Kita juga malas untuk mengkaji ilmu-ilmu Allah yang bertebaran di muka bumi ini.

Sikap kita yang suka ambil mudah dan suka berpuas hati dengan sesuatu ilmu juga menjadi puncak kenapa kita tidak dapat memahami sesuatu ilmu itu dengan mendalam ataupun sampai ke dasar hakikatnya.

Sikap dan perangai demikian tidak menguntungkan. kita malahan merugikan dan juga menyebabkan hidup kita ini sia-sia shaja, ke bumi tidak berpijak ke langit tak kesampaian.

Setiap orang yang beramal tanpa dilengkapi dengan ilmu pengetahuan (tentangnya), maka amalan-amalan itu tertolak dan tidak diterima

Demikian juga dalam soal kita hendak mengenal diri dan juga Ma’rifat dengan Allah. Kita kena kenal dengan terperinci dan dari satu peringkat ke satu peringkat. Kita kena kenal diri kita dari peringkat pertama sebelum terwujudnya mani (nauthfah) sampailah kepada masalah roh (diri batin) yang ghaib.

Daripada sebelum kewujudan kita, baik selepas disyariat (diwujudkan) hingga kepada dibangkitkan kembali (hidup). Kita kena kenal Allah bukan hanya pada sifat nama-Nya (99 nama dan 20 sifat diri-Nya), tetapi kita kena kenal pada (sifat-sifat), Zat-Nya, Asma’-Nya dan Af’al-Nya.

Juteru demikian penting bagi kita mengenali diri dan mema’rifatkan diri dengan Allah, maka sama-samalah kita mengorek langkah dengan penuh bersemangat dan insaf lagi untuk mempelajari dan memiliki segala ilmu ma’rifat ini.

Kecerdasan dan kesanggupan akal manusia di dunia ini tidaklah sama, karena ada yang dikatakan umum dan ada pula yang dikata khas tetapi yang khas itu berfikir lebih cerdas daripada pemikiran umum. Dengan perkataan yang luas “umum” itu adalah manusia biasa , dan “khas” pula adalah dikhususkan kepada manusia yang sempurna dari sudut alam pemikirannya. Oleh  orang umum yang belum sanggup berfikir-fikir cerdas, teratur dan meluaskan pengetahuannya, tidak perlu bersoal-jawab dengan perkara yang tidak diketahuinya berdalam-dalam, yang mana banyak menimbulkan keraguan di dalam hatinya sendiri

Ilmu yang sukar difahami akan mendatangkan mudarat kepada diri seseorang seandainya ia tidak mempelajarinya dengan bersungguh-sungguh dan dikhuatiri merusak daripada memperbaiki, andaikata ia tidak dapat mencungkil atau menembusi erti maksudnya yang sebenar. Oleh itu bagi orang umum, memadailah jika ia berpegang dengan Nas Al-Quran dan Sunnah itu adalah lebih baik daripada bertanya, bahkan tidak pernah campur untuk menta’wilkan ayat dan Hadis yang dalam pengertian, fahaman dan kehendaknya, kerana ia boleh merusakkan pendiriannya sendiri. Ta’wil orang umum, adalah laksana orang yang tidak pandai berenang mencuba-cuba hendak merenangi lautan yang luas dan dalam; itu adalah suatu kerja atau perbuatan yang sia-sia (bodoh sombong) saja.

 Firman Allah Ta’ala, bermaksud :

“Mengapa tidak pula berangkat satu rombongan dari tiap-tiap golongan itu untuk mempelajari perkara agama.”[At-Taubah : 122]

Dan firman-Nya lagi, bermaksud :

“Maka bertanyalah anda kepada ahli ilmu jika anda tidak tahu.”[An-Nahl : 43]

Sabda Rasulullah SAW, bermaksud :

“Tidak wajarlah bagi orang yang bodoh, berdiam diri atas kebodohannya. Dan tidak wajarlah bagi orang yang berilmu, berdiam diri atas ilmunya.”[HR. Thabrani & Abu Na’im]

Ilmu Tasauf yang benar tidak sekali-kali bertentangan dan memang tidak boleh bertentangan dengan ajaran Al-Quran, Hadis dan Sunnah Rasulullah SAW. Sebab sebagai suatu cabang cabang ilmu ke Islaman, Tasauf tidak boleh bertentangan dengan sumber asalnya. Andaikata terdapat seorang yang mengaku dirinya Sufi atau mengaku dirinya sudah kenal hakikat, tetapi ia menyalahi dan melanggar hukum-hukum syariat, ternyata benar bahawa mereka itu adalah manusia jahil dan sesat Imannya.

Saya ingin menyentuh sedikit tentang bab Solat (sembahyang) di dalam perbahasan ini. Ada seorang netters yang mempertikaikan tentang ajaran Keronahian ini yang katanya tidak perlu mengerjakan solat, cukup  berniat sahaja. Begitu juga dengan puasa, cukup dengan berniat sahaja. Dan perkara ini pula berlaku ke atas kerabatnya (keluarga) sendiri. Lalu dengan firasat yang rendah akhlaknya,  perkara yang bertentangan syara’ ini disama tarafkan dengan ajaran “Tariqat/Tasauf”!  Apakah bendanya ini???   Apakah   dangkalnya  fikiran mereka??? padahal sholat dan puasa merupakan kewajiban.

Kemantapan jiwa dicapai dengan solat (sembahyang), zikir, doa, istighfar,  mentauhidkan Allah, menginsafi kebesaran Allah, menautkan diri dengan pengucapan-pengucapan Rabbani, Puasa dan sebagainya. Perkara-perkara ini dilakukan secara terus-menerus tiap masa beraleh dan beredar. Amalan ini dikaitkan dengan masa tertentu agar manusia merasakan betapa nikmat Allah dalam penghayatan masa-masa itu dan betapa mahalnya nilai masa-masa itu.

janganlah diletakkan perkara atau hal ini kepada Tasauf kerana ilmu Tasauf tidak bersifat tercela malah tidak pernah menganjur atau menaburkan bid’ah-bid’ah dhalalah (sesat), dan tidak pernah mendidik pada sesiapa dengan perkara yang bertentangan dengan hukum-hukum syariat Rasulullah SAW, bahkan menganjurkan perkara yang dituntut oleh syara’yaitu mematuhi dan mentaati segala perintah Al-Quran, Hadis dan mengikut Sunnah Rasulullah SAW. Dari itu bukanlah salah ilmu Tasauf malah tidak ada kena-mengena langsung kepada apa yang dilakukan oleh manusia durjana sama ada yang mengaku diri orang Sufi atau mengaku diri  sudah kenal hakikat,  kesalahan yang mereka lakukan itu, merekalah yang bertanggungjawab, bukannya ilmu Tasauf/Tariqat yang hendak disalahkan.

Firman Allah Ta’ala, bermaksud :

“Bahkan (Al-Quran) itu adalah bukti-bukti yang jelas di dalam dada mereka yang diberi pengetahuan.”[Al-Ankabut : 49]

Dan firman-Nya lagi, bermaksud :

“Contoh-contoh itu Kami buat untuk manusia dan tidak ada yang mengerti kecuali orang-orang yang berilmu.” [Al-Ankabut : 43]

Agama Islam adalah suatu agama yang suci murni, tidak ada taranya kesucian dan melambangkan kebesaran Ilahi yang menciptakan alam semesta ini agar manusia yang beragama tunduk dan sujud ke hadhrat-Nya. Dengan penuh kasih-sayang-Nya Allah mengutus Nabi-nabi dan Rasul-rasul-Nya untuk memimpin dan mengasuh manusia ke jalan yang diredhoi-Nya. Tetapi malangnya manusia itu zalim, tidak tahu berterima kasih dan bersyukur kepada Allah.

Allah Ta’ala memberi manusia akal untuk berfikir, supaya dapat seseorang itu memperbezakan atau memilih yang mana satu intan dan yang mana satu kaca. Kalau tidak memahami atau mendalami ilmu-ilmu Tasauf/Tariqat bagaimana kita dapat membezakan sama ada kaca itu intan atau intan itu kaca. Jangan hentam buta saja tak kira adakah perkara itu benar atau salah.

Firman Allah Ta’ala, bermaksud :

“Barangsiapa buta (hati) di dunia ini, maka di akhirat juga ia buta dan lebih sesat lagi perjalanannya.” [Al-Isra’ : 72]

Dalam ilmu Tasauf ada menerangkan : Bahawa Sunnah Nabi itu, harus dilakukan dengan Tariqat. Bererti tidak cukup hanya dari Hadis Nabi saja, jikalau tidak ada yang melihat pekerjaan dan cara Nabi melaksanakannya, yang melihat itu adalah Sahabat-sahabat Nabi yang menceritakannya kembali kepada murid-muridnya iaitu Tabi’in dan al-Tabi’in menceritakannya pula kepada
pengikut-pengikutnya sampai ada yang membuat Hadis-hadis dan tersusunnya kitab-kitab fiqeh oleh ahli-ahli Hadis seperti Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu  Daud, Abu Na’im, Al-Baihaqi, Abu Bakar  dan lain-lain lagi.

Begitu juga ahli-ahli fiqeh, seperti Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’e dan Imam Hambali dan lain-lain lagi. Sebenarnya Al-Quran menjadi sumber utama dan Sunnah Hadis merupakan penjelasan yang penting, tetapi adalah urat nadi daripada pelaksanaan ajaran-ajaran itu ialah Tasauf.

Ilmu Tasauf menerangkan : Bahawa “syariat” itu hanyalah peraturan-peraturan belaka, “Tariqatlah” yang merupakan perbuatan untuk melaksanakan syariat itu. Apabila “syariat” dan tariqat” itu sudah dapat dikuasai, maka lahirlah “hakikat” yang tidak lain daripada kebaikan keadaan dan ahwal, sedangkan tujuan yang penting dicari atau matlumatnya ialah “Ma’rifat” yakni mengenal Allah dan wajib mencintai-Nya dengan sebenar-benar sampai ke akar  qalbu kita. Ini penting difahami!

Ummul-Kitab, adalah papan-tulis kepada pengetahuan Allah,   Ia menjadi ternyata di dalam “Kitabul mubin” atau Loh Mahfuz. Di sini Jibrail a.s. membaca perkataan Allah dan membawa turun untuk menyampaikan kepada Nabi. Tajalli pancaran Nur Allah pertama-tama mencapai “Ummul Kitab” yang mana dikatakan peringkat Jabarut, daripada sini ia menurun ke Loh Mahfuz yang mana peringkat paling bawah dari peringkat Malakut juga dinamakan “Alam Misal” atau “Nafsi Kul”. Maka Jibrail a.s. adalah di antara Jabarut dan Malakut yaitu Misal dan dunia jiwa, apa juga yang menjadi ternyata di dalam dunia kebendaan pertama-tama menjadi simpanan di atas ini :

“Di sana adalah bukan benda-benda hijau juga bukan benda-benda yang kering,  tetapi ia adalah tertulis di dalam Kitabul mubin.”[Al-An’am : 59]

Terlalu banyak wahyu dari Rasulullah SAW di dalam dunia kecil ini, ilham Aulia’-aulia’ di dalam dunia adalah anugerah daripada hak melalui peringkat sirr dan khafi yang mana kedua-duanya di dalam peringkat Jabarut. Zamir dan Fuad kedua-duanya di dalam Malakut yaitu Qalb. Qalb adalah Loh Mahfuz dari Alam Misal.

Berdiri di atas kebenaran yang hak dengan mengikut garis-garis dan aqidah-aqidah Islam yang mutlak. Oleh sebab itu pengetahuan Tariqat dan Hakikat adalah sifat-sifat yang penting dalam agama dan menjadi dasar Tariqat/Tasauf menuju ke matlamat Allah SWT atau Tariqat/Tasauf itulah yang
menjadi pedoman yang sebenarnya.

Sesungguhnya Tariqat/Tasauf itu pada hakikatnya sangat patuh kepada Allah SWT dan ibadah yang dikerjakan oleh anggota badan merupakan penjelmaan belaka daripada apa yang menyinar dari qalbu kita dan merupakan sinaran yang tersimpan. Apabila manusia tidak dapat mengenali isi kerohaniannya sendiri,  dia akan menjadi bodoh sombong terhadap dirinya dan mengakibatkan jahil wara’ pula terhadap Khaliqnya.

Firman Allah Ta’ala, yang bermaksud :

“Telah sempurna Tuhanmu, dengan benar dan adil, tidak ada yang boleh mengubah kalimah-kalimah-Nya dan Ialah yang Mendengar lagi Mengetahui.” [Al-An’am : 115]

Dan firman-Nya lagi, bermaksud :

“Sesungguhnya Tuhanmu, Ialah yang lebih mengetahui sesiapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Ialah yang lebih mengetahui orang-orang yang terpimpin.” [Al-An’am : 117]

Wallahu  a’lam…….

Wassalamu…….

di edit dari cara-ciri -ciri-cara Al,ilmu

Oleh: ewon | September 13, 2007

puasa menurut ilmu piqih

Puasa adalah salah satu kewajiban umat islam dan puasa termasuk rukun islam yang kelima setelah sahadat,shalat,puasa,zakat,haji,sekarang ini kita akan jelaskan masalah puasa dan  permasalahannnya,terlebih dahulu kita jelaskan apa pengertian puasa menurut bahasa dan menurut syariat.

PENGERTIAN PUASA
MENURUT BAHASA: menahan dari sesuatu
firman allah:  فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (26
maknanya diam atau menahan untuk tidak bicara
MENURUT SYARIAH: dianya menahan seseorang  pada siang hari dari berbuka dengan niat dari terbitnya matahari sampai tenggelam matahari
maksudnya ;1). menahan dari segala perbuatan yang buruk,syahwat, dan menahan lapar dan haus.
                2).seseorang: orang yang dibebanin hukum mukallaf  ( baliq,muslim,berakal,bukan bagi wanita haid dan nipas)
                3).niat: ajamkan( diniatkan dalam hati) untuk membedakan  dengan  amalan2  yang  lain, karna  kalau  shalat  atau  haji  atau  zakat
               bisa kita lihat dari zhahirnya akan tetapi puasa tidak bisa kita bedakan seseorang itu puasa atau tidak kecuali dia berniat dan hanyaallah  yang tahu.

RUKUN PUASA: menahan dari  syahwat, rasa lapar dan haus,dan farji(jima”) jumhur menambahkan niat pada malam hari

MASA PUASA: dari terbit fajar sampai tengelamnya matahari,

firman allah: surat al baqarah ayat 187:

 وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
artinya: makan dan minumlah sampai kamu membedakan benang putih dan benang hitam( siang dan malam) sampai fajar maka sempai fajar maka sempurnakan puasa sampai malam hari

FAIDAHNYA PUASA

1): puasa bukti ketaatan kepada allah dan dibalasin pahala yang tidak ada batasnya bagi mukmin,karna allah kasih sayangnya sangan luas,dan balasannya bagi yang puasa sorga dari pintu khusus pintu orang-orang yang puasa(ar rayyan)dan dijauhkan dari azab allah karna perbuatan maksiat
2). puasa  adalah sekolah akhlak yang mengajarkan mukmin jihad dirinya untuk menahan  dari  godaan nafsu,dan mengajarkan rasa sabar terhadap apa yang diharamkan  dan menahan hawa melihat makanan ketika dihidangkan dan bau makanan yang menyangat.
3). puasa mengajarkan manusia berlemah lembut dan kasih sayang sesama saudara karna  berbuka dan minum pada waktu yang sama dan menahan pada waktu yang sama,dan mengajarkan persatuan diantara umat islam baik ditimur dan dibarat dengan berbuka satu waktu karna rabb satu dan ibadah satu.
4). puasa menjadikan kasih sayang dan berlemah lembut dengan fakir miskin,karna merasakan lapar sebagian waktu sebagaimana yang dirasakan oleh orang miskin
5). puasa mengajarkan amanah atas murakabah (pengawasan) allah dalam sembunyi dan terang terangan

    PUASA DIBULAN RAMADHAN

RAMADHAN tuannya diantara bulan bulan,padanya al quran diturunkan,bulan ketaatan dan mendekatkan kepada kebaikan,bulan penuh pengampunan,kasih sayang,padanya diturunkan lailatul qadr yaitu bulan yang lebih baik diantara seribu bulan,menolong mukmin atas agamanya meminta kebaikan didunia,bulan diperbanyak padanya munasabah( menginstropeksi diri)dan terkabulnya doa-doa.

Salah satu puasa yang diwajibkan allah kepada hambanya yaitu umat islam sebagai bentuk ketaatan kepada allah dan dilaksanakan sebulan penuh dalam fiman allah yang mewajibkan puasa ramadhan

fiman allah dalam surat al baqarah ayat:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183

artinya:  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

hadis : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
artinya: bersabda rasulullah saw siapa yang mendirikan puasa ramadhan dengan iman dan ihtisaban diampunkan dosa2 yang terdahulu

LAILATUL QADR
disunatkan meminta dimalam lailatul qadr,karna bahwasannya malam yang paling mulia,banyak berkah,lebih utama,terkabulkan doa padanya, dianya malam yang lebih afdal dari malam jumat
AL QURAN menjelaskan keutaman malam lailatul qadr
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5
lailatul qadr dikhususkan pada sepuluh malam terakhir ramadhan akan tetapi jumhur bahwa malam lailatul qadr pada 27 ramadhan.
dalil lailatul qadr

التمسوها فى العشر الأواخر من شهر رمضان فى كل وتر
artinya:buatlah diakhir sepuluh ramadhan pada  tiap2 yang ganjil 

      HIKMAH DISEMBUNYIKAN LAILATUL QADR
supaya berusaha manusia untuk memintanya,bersungguh dalam ibadah dan loba terhadapnya, ibarat tersembunyinya jawaban hari pembalasan,dan disunatkan mukmin berdoa: 

   اللهم إنك عفو تحب العفوفاعف عنى
يا رسول الله ارايت إن وافقت ليلة القدر مذا اقول فيها قال قولى اللهم انك عفو تحب العفو فاعف عنى 

   TANDA TANDA LAILATUL QADR
Bahwa  matahari terbit pada pagi,putih bersih,bersinar,seperti bulan purnama dimalam hari,tidak panas cahayanya,tidak juga dingin cahayanya,cahaya matahari redup,tidak diiringi keluar syaitan bersamanya,

HAL HAL YANG TERPENTING TERJADI DIBULAN RAMADHAN
Yang terpenting diturunkan  al quran karim dimalam 15 ramadhan,dan terjadi hal yang lebih afdal dibulan ramadhan,
1.perang badr besar, hari yang membedakan antara haq dan bathil,tersebarnya islam,berdirinya tauhid,akhlak yang benar,kehidupan yang damai,dan saling menghormati sesama manusia,

fiman allah: وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ    (123)
artinya: sungguh allah telah menolong kamu diperang badr sedangkan kamu lemah,maka takutlah kamu kepada allah mudah mudahan kamu berterima kasih kepadanya.
 

  SYARAT SYARAT YANG DIWAJIBKAN PUASA
1.MUSLIM tidak diwajibkan bagi kafir,(selain muslim)
fiman allah:
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ3    

 2.BALIGh,tidak diwajibkan bagi anak kecil
hadis : رُفِعَ الْقَلَم عَنْ ثَلَاثَة عَنْ الْمَجْنُون الْمَغْلُوب عَلَى عَقْلِهِ ، وَعَنْ الصَّبِيّ حَتَّى يَحْتَلِم ، وَعَنْ النَّائِم حَتَّى يَسْتَيْقِظ
3.BERAKAL,tidak diwajibkan orang gila
4.tidak bagi wanita yang haid dan nipas{melahirkan}
 
mudah mudahan bermanfaat amin….,

    

Oleh: ewon | September 13, 2007

Menyambut Ramadhan

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kita bulan romadhon dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kita diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafas kita menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.  

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”
“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.” 

   Modah-Modahan bermangpaat bagi yang membaca !!! 

 

Oleh: ewon | Agustus 23, 2007

jihad memerangi amaroh diri sendirii

Apa artinya jihad ?………. jihad yang  sebenar nyah .

Karena kata-kata jihad  ini  sunguh  menakutkan musuh islam {kaum yahudi}.orang munapik yang mereka berlambang  ke islaman dan keimanan  saja . Bahkan ada satu golongan  islam yang terbiasa memakai kata jihad ini sebagai slogan saja ,yang tidak tahu dirinya ,syariat -nya dan kesadaran  dalam iman nya .

Jihad terbagi 2{dua }bagian :

                 1}. jihad besar {akbar }

                 2}. jihad kecil { ashgor}

1.1. Jihad  akbar adalah jihad yg paling sukar karena memerangi  hawa napsu syaetan yang slalu timbul di dalam diri kita yang senan tiasa menjerumuskan diri kita ke dalam lingkaran  nya hiingga menjadikan hamba sahaya dan keluarga-nya shaetan  maka itu  di sebut perang yg paling  sukar ,karena  menentang akal yang  selalu  timbul di diri kita masing -masing bahkan melawan logika yang menurut hati kecil kita slalu bertentangan  ,kecuali tlah di hinggapi rasa ke akuan diri kita selayak nya  syaetan kala di suruh sujud ter hadap diri nabi Adam as,kecuali  iblies {syaetan }US judu LI ADAMA PASAJADU IL”A iblis ABA

2.1.jihad kecil –> kembali berperang ,perang badar ,perang uhud, itu semua di jaman rosululoh saw ,memerangi kaum  kapirun meskipun kita mengeluar kan darah  sampai titik penghabisan ,bahkan persenjataan  beradu beradu di medan laga secara lahiriah dan adanya kerusakan bumi serta menghabiskan harta benda  dan jiwa raga .

Jihad pisabililah ialah jihad atow berjuang  mencari hidup dan kehidupan di jalan allah yang tlah di gariskan  oleh nya dalam  syareat -Nya {alquranul karim dan rosulnya}

JIhad dan sabililah sendiri bagai kan ada kesatuan dan kebersamaan bahkan tidak bisa terpisanh kan ,namun yang jelas jihad pisabililah lebih beritikad mendirikan  dan menegakan  agama allah dalam ketentuan dan batas syareat nya yang tlah di gariskan yang tlah tersurat dan tersirat di dalam  Al’quran dan rosulnya

Maka jangan lah kamu mengikuti orang -orang kapirin ,dan berjihad lah terhadap mereka dengan alquran dalam jihad yang besar { ALfurqon 152}                                                                         Hai nabi kobarkan lah para mu’mintuk berperang {al anfal;65}-mengandung arti mempertahan kan diri dari serangan musuh islam.

Dan bukan pula dengan jihad perorangan maka dapat di yakini adanya harkat derajat yang  hakiki sementara jihad atow perang ada dalam pardu a’in dan parduqifayah. Jihad untuk berilmupun di serukan oleh rosul-nya maka di ayat 38 at-taubah merupakan pelaksanaan  tegak nya ayat alquran .di dalam sebuah hadist  nabi menyatakan : Kejarlah ilmu mulai dari tempat buaian sampai ke liang lahat ,kejarlah ilmu sampai ke negeri china “

Hai orang yang beriman apakah sebab nya apa bila di katakan kepada kamu  berangkatlah pada jalan allah maka kamu merasa berat dan  kamu ingin tingal di tempat .Dan tiada  satu jiwapun yang akan mati kecuali denga ijin nya {alimron 145}

Jangan lah kamu mengira dan mengatkan bahwa seseorang yang gugur di jalan allah itu mati ,bahkan itu hidup di sisi tuhan nya dengan mendapat rijki {al-imron 169-170 ,al-baqoroh 154}

Mereka yang jalan di tempat hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia sedangkan tentang kehidupan akherat mereka lalai{ar-room 7}

Jihad dan hijrah belum di tingal kan ,namun arah dan pedoman jihad serta hijrah  beda langkah dan tujuan .kita sebagai umat islam yang terkecoh dengan  cara dan peralatan dalam kenikmatan duniawi harus berbenah diri kembali menyusuri jalan dan pedoman kemutlakan dan kemurnian risalah alah dan rosulnya .inilah bentuk sarana jihadnya dan hijrah nya.Hijrah dari langkad syaetaan kepada langkah -langkah  allah ,jihad dari mengejar ilmu pengetahuan ,petunjuk serta wahyu-wahyunya ,menjadi perang total dengan syaetan dan manusia syaetan atow kesyaitanan .

Bagai mana dengan  kehidupan umat islam yang mempergunakan ratio mereka sebagai sarana hidup dan sarana berilmu pengetahuan allah???

kita kaji ayat -ayat allah seperti : an-nisa 116,119-120:

- Hukum  halal dan haram setidak-tidak nya mesti di pahami atas segala apa yang akan jadi darah dan daging serta kulit di tubuh kita ini

-.sesunguh nya kebanyakan dari  manusia benar-benar hendak menyesatkan {orang lain} dengan  hawa napsunya tanpa pengetahuan .

-. adanya tarif dosa pada diri atas hasil apa yang di usahakan atow di kerjakan ,seketika adien di cerminkan dan timbangan balasan hidup dan kehidupan  di tegak kan

- .penghidupan di dunia telah bercampur dengan aneka kepentingan dan kebutuhan ,namun ilmu pengetahuan petunjuk dan wahyu tetap akan menyisihkan  harapan dunia dan harapan akhirat .

-. Syaetan itu menyeru mereka ke dalam api yang menyala-nyala ,sunguh sunguh di bumi ini saja,tlah di rasakan  satu ibarat yang cukup memberat kan diri manusia dalam kemoderenan dan kecangihan {berhala-berhala tlah di lukiskan an-nisa 117,119 bagai mana  syaetan akan mengajak manusia meniru apa yang di ciptakan allah

Hai orang yang beriman bertakwalah kepada allah dan carilah jalan yang mendekat kan diri kepadanya danberjihadlah pada jalannya ,agar kamu mendapat keberuntungan { al-maidah 35}

Bulatkan lah tekad mu bahwa pasti kamu sekalian akan menghadapi macam-macam cobaan ,tetapi apabila kamu sabar kamu adalah pahlawan ,dan kemauan kamu  adalah  kemauan pahlawan .bukan lah orang yang pandai meletkan pedang di batang leher musuh nya , yang jadi pahlawan ,akan tetapi mereka yang pandai memerangi  hawa napsunya atow memerangi diri sendiri  di kala ada hasrat tuk marah.

Apakah kamu mengira ,bahwa kamu akan di biarkan [begitu saja ]sedangkan  allah mengetahui apa yang kamu kerjakan {at-taubah 16…dan seruan nya di at-taubah 20 }sementara orang yang beriman  dan berhijrah, berjihad di jalan allah dengan harta benda dan diri adalah lebih tinggi derajat nya di isi allah dan itulah orang yang mendapat kemenangan

Sesungguh nya kemenangan yang besar itu hendak lah di capai dengan berusaha orang -orang yang bekerja keras {as-shaffat 61}       

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.