|
Tidak ada penderitaan dalam hidup ini, kecuali orang yang membuat dirinya sendiri menderita.Tidak ada |
| kesulitan sebesar dan seberat apa pun di dunia ini, kecuali hasil dari prilaku kita sendiri. Terserah kita, mau dibawa ke mana kehidupan ini. Mau dibawa sulit, niscaya segalanya akan menjadi rumit. Toh, semua akan tampak hasilnya dan nyata tidak bisa tidak, hanya kita sendiri yang merasakan dan menaggung akibatnya. Tetapi, kiranya kehidupan yang terasa menghimpit hendak dibuat menjadi lapang, segala yang tampak rumit hendaknya dibuat menjadi sederhana, dan segala yang kelihatannya buram, pekat gulita, hendaknya dibuat menjadi terang benderang, cobalah rasakan dampaknya.Ternyata dunia ini tidak lagi tampak sempit . Memandang kehidupan ini terasa seperti berdiri di puncak lalu menatap langit biru luas membentang, bertaburkan bintang, dengan semburat cahaya rembulan yang lembut menebar, menjadikan segalanya tampak indah,alloh maha besar
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri” (QS Yunus [11]:44). Padahal Alloh telah memberikan jaminan melalui firman-Nya, mengendalikan Suasana Hati Begitu pula hati dan pikiran kita mulai tergelincir ke dalam perasaan seperti itu, cepat-cepatlah kendalikan. alihkan hati ini dengan cara mengenang segala kebaikan yang pernah dilakukannya terhadap diri kita, sekecil apa pun. Ingat-ingatlah ketika dia pernah tersenyum kepada kita. Kenanglah jabat tangannya yang begitu tulus atau pelukannya yang begitu penuh persahabatan. Allah Azza wa Jalla sungguh Maha Kuasa membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya. Kita akan kaget sendiri ketika mendapati hasilnya. Betapa cepatnya hal ini berubah justru sesudah kita berjuang untuk mengubah segala sesuatu yang buruk menjadi tampak baik. Bertambah dewasa ternyata tidak cukup hanya dengan bertambahnya umur, ilmu, ataupun pangkat dan kedudukan. Kita bertambah dewasa justru ketika mampu mengenali hati dan mengendalikannya dengan baik. Inilah sesungguhnya kunci bagi ketenangan jiwa. Oleh sebab itu, kita harus benar-benar memiliki waktu dan kesungguhan untuk bisa memperhatikan segala perilaku kita sendiri . Jangan-jangan kita sudah termasuk orang yang gemar berlaku zalim terhadap orang lain tanpa kita sadari. Apabila ini terjadi, maka apalagi kekayaan yang bisa menjadi bekal kepulangan kita ke akhirat nanti? Bukankah segala amal yang kita perbuat itu-adakah tergolong amal salih atau amal salah-justru tergantung pada hati dan diri kita Begitu pula ketika kita berangkat haji, memakan waktu berpuluh hari dan menempuh jarak beribu kilometer. Tubuh pun terpanggang matahari yang membakar dan berdesak-desakan dengan berjuta-juta manusia. Tetapi, kalau tidak disertai niat karena Allah, sekadar ingin dipuji karena mendapat titel haji, maka na’udzubillah, semua ini sama sekali tidak berharga di sisi Allah. Mengapa pekerjaan yang telah ditebus dengan pengorbanan sedemikian besar malah membuahkan kesia-siaan? Ternyata sebabnya bersumber pada ketidakmampuan mengendalikan suasana hati. Sebab, sekali seseorang beramal disertai riya, ujub,takabur (sekadar mencari popularitas) sebaliknya, hari-harinya akan senantiasa digelayuti perasaan resah, gelisah, kecewa, dan sengsara? Niat yang tulus Ikhlas Mudah-mudahan dengan kesanggupan diri kita menyempurnakan dan memelihara keikhlasan niat di hati tatkala mengerjakan amal-amal yang kecil tersebut, suatu saat Allah Azza wa Jalla berkenan mengkaruniakan kesanggupan untuk mampu ikhlas manakala datang masanya kita harus mengerjakan amal-amal yang lebih besar. sekiranya didasari hati yang ikhlas seraya diiringi niat dan cara yang benar, niscaya akan melahirkan sikap ihsan. kita akan selalu merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkah sehingga dalam setiap denyut nadi dan hembusan napas kita akan selalu teringat kepada-Nya. Inilah suatu kondisi yang akan membuat hati selalu merasakan ketentraman. Demi Allah tidak ada pilihan lain. Kita harus selalu mewaspadai hati ini. Jangan sampai diam-diam membinasakan diri justru tanpa kita sadari. Sudah pahala yang didapat sedikit, hati pun tak bisa terkendalikan, sehingga semakin rusaklah nilai amal-amal kita dari waktu ke waktu. Na’udzubillaah himindaliq! Dengan demikian, selain kita terbiasa mandi untuk membersihkan jasad lahir, kita pun harus memiliki kesibukan untuk “memandikan” hati ini. Selain kita makan untuk mengenyangkan perut, kita pun harus “menyantap” sesuatu yang dapat membuat hati ini terisi. Selain kita berdandan untuk merapikan penampilan, kita pun harus sibuk “bersolek” merapikan hati kita. Dan selain kita rajin becermin untuk memperelok wajah, kita pun jangan lupa untuk rajin-rajin pula “becermin” untuk memperelok hati nurani Semua ini tiada lain agar kita memiliki kemampuan untuk menyelidik niat maupun perilaku buruk yang, disadari ataupun tidak . hanya alloh yang mengetahui. wa,llohu a’lam bilmurodih modah2an bermanfaaat bagi diri jkt 24 januari 2008 by:shineshune |