Oleh: ewon | November 25, 2007

istiqomah

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan istiqamah?

 Istiqamah adalah upaya manusia dengan bersungguh-sungguh, gigih, tekun, konsisten   untuk selalu menjalankan perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, sejalan dengan( sunnatullah) serta ridha atas ketentuan-Nya yang berlaku, mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW (sunnatulrosul) dan amal-amal kebaikan lainnya.

Didalam Al Qur’an nulkarim istiqamah berkaitan dengan pengertian “pendirian yang teguh dan kokoh” khususnya keteguhan hati pada pelaksanaan perintah dan larangan Allah seperti tercantum dalam firman Allah dalam QS 41:30, QS 46:13-14, QS 11:112 .

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS 41:30)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS 46:13-14)

Maka tetaplah kamu pada jalan yang lurus dan benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan  juga orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS 11:112)

Rasulullah SAW berkata tentang istiqamah sebagai suatu keteguhan terhadap keimanan Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”  Di dalam Hadis  Muslim yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi bersabda,”

Ikutilah jalan lurus dan berbuatlah apa yang mendekatinya. Ketahuilah bahwa sekali-kali salah seorang diantara kalian tidak akan selamat karena amalnya”. Mereka bertanya, “Tidak pula engkau wahai Rasulullah? Beliau menjawab ,Tidak pula kau, kecuali jika Allah melimpahiku dengan rahmat dan karunia-Nya.”

Menurut riwayat Tsauban, bekas budak/abid Rasulullah SAW, menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Berteguh hatilah (istiqamahlah) kamu, meskipun kamu tidak akan mampu melakukan sepenuhnya. Ketahuilah bahwa bagian terbaik dari agamamu adalah shalat, dan tiada  seorangpun yang akan memelihara wudhu, kecuali orang yang beriman.” (H.r Ahmad, Ibnu Majah,  Baihaqi)

Para sahabat Nabi SAW cenderung memaknai istiqamah sesuai dengan kondisi-kondisi ruhaniahnya.

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. misalnya memaknai istiqamah “Artinya, janganlah engkau menyekutukan sesuatu pun dengan Allah.” Maksudnya, istiqamah dikaitkan langsung dengan keadaan ruhaniah/batiniah  yang berada dalam tauhid yang murni.

Umar Bin Khattab r.a. berkata, “ Istiqamah artinya engkau teguh hati pada perintah dan menjauhi larangan dan tidak menyimpang seperti jalannya rubah.”

Utsman bin Affan r.a. berkata, “Istiqamah artinya amal yang  ikhlas karena Allah.”

Ali bin Abu Thalib k.w.j dan Ibnu Abbas r.a berkata,”Istiqamah artinya melaksanakan kewajiban-kewajiban.

Al-Hasan r.a berkata,”Istiqamah pada perintah Allah artinya taat kepada Allah dan menjauhi kedurhakaan kepada-Nya.”

Mujahid berkata, “Istiqamah artinya teguh hati pada syahadat bahwa tiada Ilah selain Allah hingga bersua Allah.”

Ibnu Taimiyah r.a berkata, ”Istiqamah artinya teguh hati untuk mencintai dan beribadah kepada-Nya, tidak menoleh dari-Nya ke kiri atau ke kanan.”

Dari hadis dan pendapat-pendapat di atas, maka istiqamah memang erat kaitannya dengan keteguhan untuk selalu berada di jalan lurus yang luas atau berbuat mendekati jalan lurus yaitu disekitar Garis Keseimbangan   dengan ketulusan dan keikhlasan semata-mata karena ridha Allah. Akan tetapi meskipun hal ini dapat dilakukan dengan berbuat amal, namun ternyata kuantitas (banyak sedikitnya) amal ini tidak  menjamin bahwa manusia akan berada di Shiraatal Mustaqiim dan selamat di hari akhir, kecuali adanya keridloan dan limpahan rahmat dan karunia Allah SWT. Jadi, keberadaan kita di jalan lurus dengan keistiqamahan sebenarnya berkaitan erat dengan Kehendak Allah SWT bukan akibat perbuatan kita atau amal kita semata. Kembali kita akan temui bahwa ridha Allah menjadi sebab utama dari keistiqamahan seorang hamba sebagai suatu limpahan karunia dan rahmat-Nya. Dan keridhaan Allah tersalur melalui Asma-asma Allah semata bukan dari usaha seorang hamba. Hal ini bisa terjadi karena menurut Syeikh Abu Hasan Asy Syadzili r.a.  [68],

“Asma-asma Allah adalah pemberian Allah, Asma-asma Allah  adalah juga sifat-sifat Allah, sedang sifat-sifat Allah berdiri dengan Dzat Allah, dan tiada yang mampu menghapus Dzat Allah. (  sipat 20 yang wajib si ketahui) terkandung dlm kitab tijan daruri

Bagi seorang hamba ada nama-nama yang rendah dan yang tinggi, nama-nama yang tinggi telah disifatkan oleh Allah dalam firman-Nya :

Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS 9:112)

Menurut pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah , istiqamah merupakan kalimat yang mengandung banyak makna, meliputi berbagai sisi agama, yaitu berdiri di hadapan Allah secara hakiki dan memenuhi janji. Istiqamah karena itu berkaitan dengan akhlak dan perilaku berupa perkataan, perbuatan, keadaan, dan niat. Istiqamah dalam hal ini berarti pelaksanaannya karena Allah,  beserta Allah, dan berdasarkan perintah Allah.

“Jadilah orang yang memiliki istiqamah dan janganlah menjadi orang yang mencari kemuliaan, karena jiwamu bergerak untuk mencari kemuliaan, sementara Rabb-mu memintamu untuk istiqamah.”

Dalam banyak aspek kehidupan  istiqamah merupakan suatu ruh atau energi spiritual yang karenanya keadaan menjadi hidup dan juga menyuburkan amal manusia secara umum. Oleh karena semua amal tergantung niatnya, dan niat erat kaitannya dengan keikhlasan dan ridha Allah semata, maka istiqamah dalam banyak aspek akan berkaitan dengan kontinuitas atau konsistensi untuk selalu berada di Shiraathal Mustaqiim dengan pengolahan jiwa atau nafs manusia atau penyucian jiwa.

 

Istiqamah menyembunyikan kekeramatan kata Sang Guru Yang pertama  tentang ImanYang kedua adalah penyaksian Iman dan penyaksian adalah penauhidan atas keesaan-Nya

Maka, istiqamah adalah bekal utama bagi yang melakoni jalan ruhani. Tak ada yang lebih keramat dari pada istiqamah Karena didalam istiqamah tersimpan anugerah dan taufik dari  Allah serta Curahan rahmat dan kasih sayang-Nya Akan dilimpahkan-Nya padamu  bagai curah hujan musim kemarau.Sebagai penyubur bumi hati dan nafsumu Hingga tumbuhkan buhul yang kuat,bekal pasti tuk menuju pada-Nyasampai engkau menyaksikan-Nya dalam Arasy-Nya yang sudah Dia benamkan dalam qolbumu Hamba-Nya yang diridhai-Nya.

cara-diri al’ilmu

by:ogin


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: